Kamis, 08 Juni 2017

JINGGA DAN SENJA BAB 10.2



Jingga dan Senja
karya : Esti Kinasih
Bab 10 (2)

 Keputusan Angga untuk mundur sepenuhnya benar-benar mengejutkan Tari. Meskipun bisa dikatakan kini nyaris dihadapinya Ari sendirian, paling tidak dia merasa masih ada seseorang di luar sana. Seseorang yang bisa menjadi tempatnya berlari seandainya suatu saat nanti dirinya benar-benar telah letih menghadapi Ari. Tempatnya sejenak terpuruk. Sejenak mengeluh. Sejenak ambruk untuk kemudian bangkit kembali setelah kekuatan baru telah terhimpun. Seseorang yang sanggup mengatasi Ari dan semua kesintingannya.
Namun, seseorang itu kini memilih pergi. Karena dia telah merasakan hadirnya sang pengganti. Mengisi tempatnya selama ini berdiri. Dan bisa dipastikan dia akan jadi pelindung untuk Tari, tugasnya selama ini.
Sementara yang sesungguhnya terjadi adalah, Tari tidak bisa menerangkan siapa orang ini. Karena identitasnya terlarang untuk dikatakan.
Baru satu kali pertemuan dan beberapa kali sambungan telepon. Meskipun Ata sepertinya punya sifat yang bertolak belakang dengan Ari, Tari tidak yakin Ata akan seperti Angga. Sepenuhnya membela dan melindunginya dan Ari. Karena darah lebih kental daripada air!
Kepergian Angga ternyata menciptakan satu lubang menganga. Tari tak menyangka kekosongan yang timbul sesudahnya bisa amat sangat menikamnya. Mewujud dalam bentuk hampa dan rasa sendirian. Seperti tidak ada siapa pun di atas bulatan bumi kecuali dirinya sendiri.
Kehilangan itu kemudian pecah dalam bentuk tangis dan Fio-lah satu-satunya orang yang dibiarkan Tari untuk tahu dengan pasti keadaannya.
Keesokan haninya Tari baru muncul di sekolah setelah nyaris bel, dengan kedua mata masih agak bengkak bekas menangis semalam. Sengaja dia datang nyaris bel supaya terbebas dari berondongan pertanyaan. Sedikit saja dirinya terlihat kenapa-kenapa, teman-teman sekelasnya langsung bisa menduga, pasti berhubungan dengan Ari. Dan itu selalu membuat mereka antusias ingin tahu ada apa.
Sayangnya untung memang tak pernah bisa diraih, dan malang juga, kalau sudah takdir, tak pemah bisa ditolak.
Ari juga baru datang. Cowok itu sedang memarkir motornya saat lewat sudut mata, ditangkapnya sosok Tari. Seketika keinginan untuk mengganggu muncul. Tapi kemudian disadarinya langkah-langkah Tari terlihat gontai. Kepalanya yang kali ini tanpa hiasan apa pun, tertunduk. Segera dihampirinya cewek itu dan dihentikannya langkahnya tepat di hadapan.
Tari tersentak dan seketika menghentikan langkah. Dia mengeluh dalam hati, karena orang yang berdiri tepat di depannya itu adalah orang yang paling tidak ingin dilihatnya saat ini. Dan lagi-lagi, dia juga harus ikhlas. Karena sebentar lagi pasti mereka akan menjadi bahan tontonan, seperti yang selalu terjadi tiap kali dia ketemu Ari.
Dugaan Tari benar. Tak lama kemudian, di sekeliling mereka, dalam jarak yang terjaga, mulai terbentuk titik-titik penonton yang menatap ke arah keduanya dengan sorot ingin tahu. Dan karena sekarang mereka masih berada di area depan, di antara koridor utama dan lapangan olahraga, formasi penonton yang tercipta jelas yang paling lengkap. Perwakilan semua angkatan, kelas sepuluh sampai dua belas. Komplet!
Hebat! Kayaknya gue emang calon seleb nih, ntar bakalan jadi orang ngetop! desah Tari dalam hati.
“Lo kenapa?”
Ari murni khawatir melihat kondisi cewek di depannya. Sayangnya Tari telanjur menganggapnya monster berwujud manusia. Karena itu dia menyangka tampang cemas di depannya itu pasti palsu, cuma pura-pura. Dan jawaban untuk pertanyaan senius Ari tadi adalah bentakan kasar.
“Minggir kenapa sih!? Lo nggak tau kalo bentar lagi bel, apa!?”
Ari tidak peduli. Bahkan sepertinya dia tidak menyadari sikap kasar Tari. Fokusnya tertuju pada kedua mata Tari yang agak sembap. Yang jelas—jelas habis menangis. Kemungkinan semalam.
“Gue nanya serius nih. Lo kenapa? Bukan abis nangisin gue, kan?”
“Nangisini elo!?” Tari membelalakkan kedua matanya lebar-lebar. “Hahaha,” dia memperdengarkan tawa dalam bentuk suku kata. “Maaf, gue terpaksa mengecewakan elo, Kakak. Tapi, elo mati pun gue nggak bakalan nangis, tau!” Namun, langsung diralatnya kalimat itu. “Eh, tapi nggak pa-pa ding. Gue akan nangis. Kalo perlu yang paling kenceng. Plus ucapan syukur...” Tari menyipitkan kedua matanya. Mempraktikkan ekspresi yang akan dipakainya kalau Ari benar-benar mati. “Kak Ari, akhirnya lo mati juga. Kenapa baru sekarang sih? Tapi nggak pa-pa deh. Yang penting lo udah mati!”
Kalimat-kalimat yang, sumpah, sadis banget. Tapi Ari tidak terpengaruh. Kedua mata bengkak itu kini jadi beban pikirannya.
“Jadi, nangisin siapa lo sampe mata pada bengkak begitu?”
“Bukan urusan lo! Mau tau aja!”
Bel masuk berbunyi. Tari langsung merasa punya alasan untuk menyingkirkan cowok yang telah menghentikan langkahnya itu.
“Awas, lo! Minggir!” bentaknya. Ari bergeming. “Udah bel, tau!”
Dengan kasar dan dengan mengerahkan tenaga cukup besar, Tari menyingkirkan tubuh tinggi yang telah menghadangnya itu. Sebenamya lebih mudah melewati sisi kiri atau kanan Ari, tapi bisa melakukan satu tindakan kasar terhadap cowok itu, meskipun hanya menyingkirkan tubuh cowok itu tak lebih dari dua puluh senti, rasanya lebih puas.
Tari meneruskan langkahnya yang sempat tertunda. Tapi baru dua langkah, mendadak dia kembali lagi.
“Nangisin elo?” ditatapnya Ari tepat di kedua bola matanya. “Terima kasih!”
Diteruskannya langkahnya yang tertunda. Ari membalikkan tubuh. Diikutinya setiap langkah Tari dengan tatapan yang tanpa sadar, menajam. Kedua rahangnya perlahan mengatup keras. Bagian terberat dalam rencana nekatnya, yang selama ini terus dia ulur karena mental dan emosinya belum siap, ternyata harus dia masuki secepatnya. Karena temyata dirinya belum menang sepenuhnya.
Berbeda dengan siswa-siswa lain yang segera berlari ke kelas masing-masing, Ari justru kembali menghampiri motornya. Sambil mengenakan jaket hitamnya, dikontaknya Raka.
“Ka, ada yang nganggur, nggak?”
“Tinggal yang biasa gue pake.”
“Ya udah, nggak pa-pa. Gue ambil itu aja.”
“Lama?”
“Kayaknya begitu. Tapi itung harian aja.”
“Kapan mau lo ambil?”
“Kemungkinan siang ini. Tapi pasti-nggaknya ntar gue kabarin.”
“Oke.”
Ari memasukkan kembali ponselnya ke saku celana lalu menghidupkan mesin motomya. Tak lama kemudian, cowok itu telah berada di jalan raya. Meninggalkan gerbang sekolah jauh di belakang, semua mata pelajaran, guru-guru, dan teman-teman dalam ketidakpedulian.

***
Bel istirahat berbunyi. Tari menanik napas lega. 4 x 45 menit yang sia-sia. Tidak secuil pun pelajaran yang diberikan para guru berhasil menembus tempurung kepalanya. Tertahan oleh kesedihan karena keputusan Angga untuk mundur sepenuhnya. Tiba-tiba ponsel yang dia letakkan dalam laci bergetar. Tari meraihnya.
“Ata!” serunya tertahan. Seketika muram di wajahnya tersapu bersih. Dan pendar segera menggantikan kabut kelam di kedua matanya.
Fio tertegun. Seketika tanda tanya tercetak di dalam kepalanya. Sepertinya Angga bukanlah penyebab sepenuhnya.
“Gila, tepat amat!” ucap Fio heran. Keningnya sampai berkerut. “Jangan-jangan dia bisa telepati. Atau nggak, berarti jam istirahat sekolahnya samaan sama kita.”
Tari sama sekali tidak menyimak kata-kata Fio itu. Dia segera bangkit berdiri.
“Gue di gudang, Fi,” ucapnya pelan dan langsung berlari ke luar kelas.
Tari menuju gudang dengan langkah-langkah cepat, nyaris setengah berlari. Dalarn genggaman, ponselnya terus bergetar. Sementara dalam luap emosi yang tertahan, dadanya bergetar. Begitu memasuki gudang, langsung ditutupnya pintu dan diputarnya anak kunci dua kali putaran sekaligus.
“Kok lama ngangkatnya? Udah bel istirahat, kan?” Ata langsung bertanya begitu Tari membuka kontak.
“Kok elo baru nelepon sekarang? Ke mana aja siiih?” Tari juga langsung menyerangnya dengan pertanyaan, seakan-akan dia tidak mendengar pertanyaan Ata barusan. Intonasi suara Tari membuat Ata seketika itu juga diserang kecemasan.
“Kenapa? Lo diganggu Ari lagi?”
“Kapan sih dia nggak gangguin gue?” tanya Tari dengan suara tinggi.
Dan seperti hari-hari kemarin, pengaduan meluncur dari mulutnya seperti rentetan peluru senapan mesin. Namun kali mi tidak hanya itu. Tangis hebat menyertai. Hingga ketika ribuan kata itu usai terkatakan, keheningan yang benar-benar senyap tercipta di ujung tempat Ata berdiri. Ketika beberapa saat kemudian cowok itu bicara, itu adalah untuk yang pertama kalinya Tari mendengar suaranya dalarn intonasi yang berbeda.
“Tar...,” Ata terdiam sesaat, “tolong jawab yang jujur ya. Lo nangis sampe kayak gini, bener cuma karena Ari ngapus nomer gue dan HP lo?”
Sontak Tari tersentak.
“Ng... iya,” jawabnya dengan keraguan yang bahkan bisa didengar Ata dengan jelas.
“Bener?” cowok itu mengulangi pertanyaannya.
“Iya. Kenapa? Gue terlalu heboh ya?” Tari tertawa malu. “Abis kalo gue nggak bisa ngontak elo, ntar gue ngadu ke siapa dong, soal kembaran lo yang brengsek banget itu?”
“Mau berapa kali pun Ari ngapus nomor gue dari HP lo, sebenernya nggak jadi masalah, kan? Gue pasti akan nelepon lo.”
“Mmm... iya sih.”
“Jadi apa?”
“Apa?”
“Yang bikm lo nangis sampe begini? Gue jadi khawatir soalnya kemaren-kemaren lo nggak pernah nangis sampe kayak gini.”
Tari terdiam. Mendadak dia juga menyadari, ini bukan sepenuhnya soal hilangnya nomor telepon Ata dan ponselnya. Jangan-jangan...
Cewek itu tertegun.
“Kok gue ngerasa, kayaknya ini bukan soal Ari ya,” ucap Ata dengan nada lunak. Namun, nada lunak itu seketika menampar Tari. Memperjelas keraguannya sendiri yang bahkan baru saja tenlintas dan masih samar-samar.
“Ng...,” Tari jadi tergagap.
“Nggak pa-pa. Gue nggak lagi menyelidik kok.” Ata terawa pelan, menenangkan.
Suara ketukan di pintu menghentikan percakapan itu.
“Bentar, Ta. Ada yang ngetok pintu. Pasti Fio.” Tari mengulurkan tangannya, memutar anak kunci. Tak lama Fio menyelinap masuk.
“Bener Fio?” tanya Ata.
“He-eh.”
“Bagus deh. Jangan sampe ada orang lain yang ngeliat elo dalam kondisi kayak gini.” Ata menarik napas. “Balik ke masalah penghapusan nomor telepon gue. Kalo soal itu, lo nggak usah kuatir deh. Mau berapa kali pun Ari ngapus nomor gue dan HP lo, gue akan tetep ngontak elo. Jadi kita nggak akan putus komuniikasi. Kecuali kalo Ari merealisasi ancemannya, ngambil simcard lo.”
Ata mengatakan terus terang rencananya. Membuat Tari terdiam. Karena kalau sampai kejadian, tuh urusan pasti bakalan ribet, kisruh, dan bikin gempar. Dan yang pasti juga, bakalan panjang!
“Oke, Tar?”
“Eh, iya deh. Oke deh,” Tari menjawab tak yakin.
“Udah tenang sekarang?”
“Yah, gitu deh. Akan gue tenang-tenangin. Mudah-mudah bisa.”
“Ada gue. Lo nggak sendirian. Jadi nggak usah cemas.”
“Kalo gitu, oper HP lo ke Fio. Ada yang mau gue omongin sama dia.”
Tari menyerahkan ponselnya ke Fio. Sahabatnya itu menerima dengan ekspresi heran. Pembicaraannya ternyata tak lama.
“Kata Ata, gue disuruh beliin elo teh manis anget sama air es buat ngompres mata,” kata Fio sambil mengembalikan ponsel di tangannya kepada sang pemilik. Tari melihat ke arah layar dan mendapati Ata telah mengakhiri komunikasi.
“Gue ke kantin dulu.” Fio meraih hendel pintu dan berjalan keluar. Tak lama dia kembali dengan benda-benda yang diperintahkan Ata.
Dua teguk teh manis hangat memang membuat Tari kemudian jadi tenang. Dengan menggunakan tisu cewek itu lalu mengompres kedua matanya dengan air dingin. Fio melihat jam tangannya. Dua menit lagi bel masuk berbunyi.
“Kayaknya lo terpaksa ngerem di sini deh, Tar. Meskipun udah dikompres, tetep aja lo keliatan jelas abis nangis. Ntar gue bilang ke Pak Isman deh kalo lo sakit. Ada di ruang PMR.”
“Nggak ah,” Tari langsung menolak. “Gila lo, gue disuruh ngerem di tempat kayak gini.”
“Lo mau nekat masuk kelas dengan mata bengkak gitu?”
Fio tercengang. “Lo ngaca deh. Mata lo tambah bengkak tuh. Tadi pagi aja anak-anak udah pada ribut nanyain gue. Semua udah nebak semalem lo pasti nangis abis-abisan.”
“Ah, bodo amat...” Tari mengusap kedua matanya, mengeringkan sisa-sisa air mata. “Ngumpet juga percuma, tau! Tetep aja semua orang tau gue abis nangis. Gue keluar ntar pas bel pulang juga, tetep aja bengkaknya belom ilang. Lagian juga nggak mungkinlah gue ngumpet di sini sampai jam dua. Gila aja. Bisa-bisa ntar waktu lo jemput, badan gue udah penuh sarang laba-laba.”
“Terus, mau ngomong apa lo kalo ditanya?”
“Apa kek.” Tari tak peduli.
Fio menyerah. Sejak terlibat dengan Ari, Tari mulai ketularan sifat cowok itu. Peduli amat apa kata orang!
Lima menit setelah bel berbunyi, baru keduanya keluar dari gudang. Koridor sudah sepi. Tari melepaskan ikatan rambutnya. Membiarkan helai-helai rambut itu menjadi tirai untuk menutupi kedua matanya. Dia memang tidak mungkin bisa menyembunyikan bengkak baru di kedua matanya itu dari teman-teman sekelasnya. Tapi dari anak-anak kelas lain, jelas akan diminimalisasinya saksi mata sesedikit mungkin.
Cewek itu berjalan menyusuri koridor dengan kepala ditundukkan, hingga mukanya tertutup uraian rambut. Di sebelahnya, Fio berjalan antara cemas tapi juga pasrah. Dia tidak berhasil mencegah teman semejanya ini. Jadi, apa yang akan terjadi, ya udah, terjadilah. Mau gimana lagi?
Benar saja. Begitu Fio mengetuk pintu, seisi kelas yang tadinya hanya sekadar mengangkat muka dari keseriusan memelototi buku di hadapan masing-masing, kontan menegakkan tubuh. Menatap penuh perhatian saat mendapati kedua mata Tari lebih sembap dibandingkan tadi pagi.
Begitu juga Pak Isman. Yang tadinya hanya sekadar menoleh dan bermaksud memerintahkan kedua murid yang terlambat itu untuk segera duduk—karena beliau tidak suka membuang-buang waktu mengajarnya—seketika ikut menatap Tari dengan perhatian penuh.
“Maaf, Pak. Kami terlambat,” ucap Fio setelah menganggukkan kepala. Tari juga menganggukkan kepala tapi tidak mengatakan apa-apa. Keduanya masuk dan langsung melangkah menuju bangku masing-masing.
“Sini kamu.” Pak Isman menggerakkan kelima jari tangan kanannya. Sesaat Tari dan Fio saling pandang, kemudian mereka balik badan, melangkah menuju meja guru.
“Kamu yang habis nangis.” Pak Isman menegaskan siapa yang dipanggilnya. Seketika Fio kembali berjalan ke arah bangkunya, sementara Tari ke depan kelas.
“Kamu kenapa?” Pak Isman menatap sepasang mata sembap dan merah itu.
Seisi kelas langsung menyiagakan kedua telinga masing-masing. Yang nanya guru, Tari pasti nggak bakal berani ngeles. Jadi sekarang mereka bisa tau kenapa tu cewek semalem nangis dan sekarang nangis lagi. Ceritanya pasti seru deh!
Dugaan mereka meleset. Tari tetap memilih tidak akan membuka urusan pribadinya. Tapi karena yang bertanya guru, guru killer pula, cewek itu berpikir keras bagaimana agar keterbungkamannya tidak dianggap telah melecehkan wibawa guru di depannya ini. Dan Tuhan memang Maha baik dan Maha Pengertian. DIA tiupkan ide ke dalam kepala Tari dalam hitungan jentikan jari.
“Bapak tau Kristen Stewart, nggak? Itu Iho, yang jadi Bella di film Twilight. Di situ dia pacaran sama vampir namanya Edward, Pak. Yang meranin si Robert Pattinson. Itu, yang jadi Cedric Diggory di serial Harry Potter. Bapak tau, kan?”
Mana Pak Isman tau!
Dunia guru fisika dan dunia ABG itu bukan beda tata surya lagi, tapi udah beda galaksi! Jadi, nama-nama ngetop di kalangan ABG kayak Emma Watson, Daniel Radcliffe, Megan Fox, dan dua nama yang disebutkan Tari tadi—Kristen Stewart dan Robert Pattinson—mana guru fisika tau.
Soalnya, nama-nama ngetop di kalangan guru-guru fisika adalah Archimedes, Robert Boyle, Isaac Newton, Albert Einstein, Emilie Du Chatelet, terus keluarga Currie, dan masih banyak lagi. Orang-orang yang menyandang predikat “ilmuwan besar”. Berotak superencer, tapi rata-rata tampangnya, yaaaah, agak pas-pasan deh gitu.
“Kenapa mereka?” tanya Pak Isman kemudian, dengan nada dingin.
“Itu, Pak, gosipnya sekarang si Kristen Stewart itu lagi hamil. Katanya sih itu anaknya Robert Pattinson, Pak,” Tari menjelaskan dengan kepala tertunduk dan jari-jari tangan saling memainkan satu sama lain. Seisi kelas mulai tersenyum-senyum geli.
“Terus kenapa?” tanya Pak Isman.
“Ya saya kan ngefans banget sama si Robert Pattinson itu, Pak. Sejak dia masih main di Harry Potter. Belom ngetop banget. Makanya pas denger gosip itu, saya jadi...,” Tari diam sejenak, “agak-agak broken heart gitu deh. Kan pasti sebentar lagi mereka berdua bakalan nikah.”
“Jadi, saking patah hatinya, kamu sampai nangis-nangis? Begitu?”
“Iya, Pak.” Tari mengangguk. Norak norak deh, ucapnya dalam hati.
Seketika seisi kelas menahari tawa dengan cara mereka masing-masing. Sementara Pak Isman cukup bijaksana untuk dengan cepat menyadari sekaligus memaklumi, yang dihadapi murid di depannya ini pasti persoalan yang cukup berat, sampai tidak bisa mengendalikan diri dan menangis di sekolah.
“Tapi masih sanggup belajar, kan?”
“Masih, Pak.” Tari mengangguk lagi.
“Ya sudah. Kembali ke bangku kamu. Lupakan dulu patah hatinya, sekarang waktunya belajar.”
“Terima kasih, Pak,” ucap Tari pelan sambil sekali lagi menganggukkan kepala, kemudian berjalan ke bangkunya. Disambutnya senyum, tawa tertahan, dan tatapan geli teman-teman sekelasnya dengan sikap tidak peduli.

***
Bel pulang berbunyi. Lima detik kemudian ponsel Tari menggetarkan laci tanpa bunyi. Cewek itu buru-buru meraihnya. Dengan posisi tangan di atas pangkuan, diperiksanya layar.
“Ata!” bisiknya.
“Wah, tepat lagi!” seru Fio tertahan. Kedua matanya terbelalak menatap Tari. Kemudian dia teruskan ucapannya dengan suara berbisik, karena guru jam terakhir masih ada di depan, duduk di bangkunya.
“Beneran, tu orang pasti punya kemampuan telepati deh. Tadi waktu nelepon lo jam istirahat juga pas banget. Abis bunyi bel.”
Dengan gerakan sembunyi-sembunyi dan dengan kepala merunduk dalam-dalam hingga uraian rambutnya membentuk tirai, Tari mendekatkan ponselnya ke satu telinga.
“Halo?” bisiknya.
Tak lama cewek itu tersentak hebat. Kedua matanya terbelalak dan mulutnya ternganga lebar, yang kemudian refleks ditutupnya dengan satu tangan.
“Kenapa? Kenapa?” Fio langsung cemas.
Tangan Tari yang menggenggam ponsel terjatuh ke pangkuan tanpa sadar. Cewek itu menoleh dan menatap Fio den gan raut tegang.
“Sekarang Ata ada di depan sekolah!”
Ganti Fio yang tersentak hebat.

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar