Jingga
dan Senja
karya : Esti Kinasih
Bab 10 (1)karya : Esti Kinasih
“JADI, rival gue sekarang sodara kembar gue sendiri nih?”
Tari, yang baru saja menapaki koridor utama yang menuju ke arah tangga nyaris saja terlonjak. Ari sudah berdiri rapat di sebelah kanannya. Dan dengan membungkukkan punggung, kalimat barusan dibisikkan cowok itu tepat di telinganya. Kemudian cowok itu menegakkan kembali tubuhnya.
“Nggak masalah,” ucap Ari dengan nada ringan. Sejenak diangkatnya kedua alis. “Tapi gue sama dia sifatnya hampir sama lho.”
“Nggak. Beda banget, tau!” serta-merta Tari membantah. Ari tersenyum geli.
“Elo tau apa sih? Gue kenal dia dari kecil. Dan dalem perut malah.”
“Beda!” Tari tetap ngotot. Senyum Ari jadi semakin lebar.
Cowok itu mengulurkan tangannya ke belakang, seperti mencari-cari sesuatu di saku belakang celana panjangnya. Sekotak rokok kemudian tergenggam di tangan kirinya.
“Kalo deket elo tuh gue harus nyiapin rokok. Buat peredam. Soalnya elo suka ngelawan. Kalo nggak ada peredam, bisa-bisa lo gue apa-apain ntar,” ucapnya sambil memasukkan kotak rokok itu ke saku kemeja. Penjelasannya membuat Tari bergidik dan seketika mundur selangkah tanpa sadar.
“Tu korek ke mana, lagi?” kembali Ari mengulurkan tangannya ke belakang. Tiba-tiba ponselnya mengeluarkan ringtone tanda ada panggilan masuk. Dikeluarkannya benda itu dan saku depan celana panjangnya. Sesaat keningnya berkerut saat menatap layar ponsel.
“Panjang umuuuuur,” sapanya untuk lawan bicaranya di telepon. “Kami lagi ngomongin elo nih.”
Ata! Tari tertegun. Tak menyangka akan menyaksikan komunikasi langsung kedua kembar itu di depan matanya. Langkahnya sampal terhenti. Ari ikut menghentikan langkah. Cowok itu kemudian pindah posisi ke depan Tari. Sementara mulutnya berkomunikasi dengan saudara kembarnya di ujung lain telepon, kedua matanya terarah lurus pada Tari. Ada pijar yang tak dimengerti Tari, berkilat di kedua mata Ari.
“Sekarang gue lagi berduaan sama si kembar ketiga nih,” ucap Ari. Kemudian terdiam. Perlahan kedua matanya menyipit tanpa fokus, sementara perhatiannya terkonsentrasi pada ponsel di satu telinganya itu. “Lo semalem udah marah-marah hampir sejam! Masih kurang ya? Sekarang masih mau ngamuk lagi? Gue tutup teleponnya nih! ... Mau ngomong?” Kedua mata Ari melebar, kemudian dia tertawa geli. “Elo tuh bego ya? Kita rival, kan? Nggak mungkinlah gue kasih lo ngomong sama dia selama ini cewek ada sama gue. Apalagi pake HP gue pula. Bukan cuma nggak sopan, itu berarti nantang. Paham?”
Sekarang Tari mengerti makna pijar yang bekerlip di kedua mata Ari. Ini pertarungan tiga kubu! Keberadaan Ata yang tidak bersama-sama mereka memang membuat Ari jadi punya dua lawan terpisah. Sementara Ata dan Tari yang tidak bisa bersama-sama mau tidak mau harus menghadapi pentolan SMA Airlangga ini sendiri-sendiri
Sepertinya Ata memutuskan pembicaraan dengan tiba-tiba, karena kemudian Ari menjauhkan ponselnya dari telinga lalu memandangnya dengan kening berkerut.
“Nggak sopan. Main tutup gitu aja,” dengusnya. Tapi kemudian seulas senyum geli—yang juga bisa diartikan sebagai kemenangan—terc
Dasar jahat emang ni orang! desis Tari dalam hati. Tak lama kemudian, gantian ponselnya yang mengeluarkan ringtone pertanda ada panggilan masuk. Cewek itu bergegas mengeluarkannya
Tapi belum sempat Tari melihat nama siapa yang muncul di layar, Ari sudah keburu merebutnya. Seketika Tari berusaha merebut kembali ponselnya, tapi gagal. Dengan tangan kanan mematahkan setiap usaha Tari untuk mengambil kembali ponselnya, Ari menatap ke arah layar. Keningnya sesaat berkerut.
Ketika usahanya tak juga berhasil, akhirnya Tari menyerah. Cewek itu hanya bisa melotot marah, yang tentu saja tidak berefek apa-apa.
“Nah, begitu dong. Tenang sedikit kenapa sih?” Ari memasukkan ponsel miliknya ke saku celana, kemudian menepuk-nepuk puncak kepala cewek di depannya. Sama sekali tidak mengacuhkan sepasang mata yang menatapnya dengan kilatan marah itu.
Tari mengepalkan kesepuluh jarinya kuat-kuat. Kalau saja tidak sedang berada di sekolah, mungkin dia sudah menjerit-jerit saking marahnya. Ari mendekatkan ponsel Tari ke satu telinganya.
“Ya?” ucap cowok itu, kemudian tertawa pelan. “Kok gue lagi? Kan tadi udah gue bilang, gue lagi berduaan sama kembar kita yang ketiga. Di depan gue persis nih orangnya... Oh, gue emang hobi merampas HP siapa aja... Balikin HP-nya ke dia? ... Ini penintah? ... Kalo gue nggak mau, gimana?” Ari menyeringai lalu tertawa geli.
“Ata...,” ucapnya kemudian dengan nada belagak prihatin, “lo nggak bisa apa-apa. Lo pikir lo ada di mana? Selama Tari ada di wilayah kekuasaan gue, apalagi kalo orangnya lagi ada di deket gue begini, otomatis dia ada di bawah otoritas gue.”
Selama beberapa detik berikutnya Ari tidak bicara apa-apa, hanya tetap menempelkan ponsel Tari di telinga sambil tersenyum, kadang tertawa tanpa suara.
“Sst!” cowok itu menempelkan telunjuk kanannya ke bibir. Seolah-olah Tari sedang menciptakan keributan. Padahal setelah usahanya merebut ponsel gagal, dan tadi cewek itu cuma diam menahan marah. “Ada yang lagi memohon,’ bisik Ari. Dia kedipkan satu matanya. Kemudian selama beberapa detik cowok itu terdiam lagi, serius dengan ponsel Tari yang menempel di satu telinganya itu.
Pembicaraan berakhir. Ari menjauhkan ponsel itu dan telinganya tapi tidak menyerahkannya kepada sang pemilik.
“Tolong jangan ganggu elo, katanya,” Ari membenitahu Tari percakapan terakhimya dengan Ata. “Permohonan sia-sia. Kalo gue mau ganggu elo, bisa apa dia? Iya nggak? Tapi gue seneng sih dengernya. Ada yang sampe memohon! Coba lo bayangin. Ck ck ck!” dia berdecak sambil geleng-geleng kepala. Sementara jarinya sibuk menekan tombol-tombol di ponsel Tari. “Kalo saham, nilai lo melonjak, Tar.”
Kurang ajar! maki Tani dalam hati. Tapi kemudian dia menyadari apa yang sedang dilakukan Ari terhadap ponselnya.
“Kakak ngapain?” tanyanya seketika. Ari tidak menjawab. Jarinya semakin cepat menekan tombol-tombol ponsel di tangannya.
“Kakak ngapain sih!?” seru Tari. Kali ini sambil berusaha merebut ponselnya. Ari berkelit. Dia julurkan tangan kirinya yang memegang ponsel Tari tinggi-tinggi. Sementara tangan kanannya mematahkan setiap usaha Tari untuk merebut ponselnya kembali. Tak lama...
“Nih!” Ari menyerahkan kembali ponsel itu pada sang pemilik. Tari menerimanya dengan tampang murka.
Sesaat cowok itu menatap Tari, yang langsung sibuk memeriksa ponselnya. Sorot kedua matanya menyiratkan kepuasan sekaligus seperti menunggu sesuatu. Kemudian dia balik badan dan pergi dengan langkah-langkah
Tidak tanggung-tanggu
“Kak Ari kok nomomya Ata dihapus sih!?” seru Tari. Ari tidak mengacuhkan. Terus berjalan. “Kak Ari!?” seru Tari lagi. Kali ini sambil dihampirinya cowok itu.
Ari menoleh ke belakang dan terkejut mendapati Tati tengah menghampininya dengan langkah-langkah
Kondisi cewek itu sudah cukup membuat Ari waspada sejak tadi. Karenanya begitu tangan kanan Tari terulur, apa pun tujuannya, dengan sigap Ari menangkapnya tepat di pergelangan tangan. Begitu tangan kanannya terkunci, Tari langsung mengulurkan tangan kirinya. Kali ini dengan tekad harus bisa melukai Ari.
Jelas lebih mudah bagi Ari untuk mengunci serangan itu dengan tangan kanannya yang bebas. Tari sampai mengepalkan kedua tangannya, saking kerasnya dia berusaha untuk bisa menyentuh Ari. Cubitan, cakaran, tinju. Apa aja, yang penting kena.
Ari tak perlu mengerahkan banyak tenaga untuk menahan serangan itu. Dua kepalan tangan penuh amarah itu tenhenti sepuluh sentimeter dari dadanya. Dan terhenti pada jarak itu. .Sekuat apa pun Tari berusaha, tubuh di depannya tetap tak bisa disentuhnya.
Kedua kepalan tangan Tari kemudian terbuka. Kali ini coba disentuhnya Ari dengan ujung-ujung jari menambah jangkauan sepanjang tujuh sentimeter dan tinggal menyisakan tiga sentimeter ruang kosong di antara mereka.
Jarak teramat tipis yang sayangnya, sekuat apa pun Tari mengerahkan tenaganya, tidak benhasil ditembus karena Ari mengetatkan cekalan kedua tangannya. Tiga sentimeter yang akhirnya menguraikan emosi cewek itu dalam bentuk sesaat isak lirih yang tak lagi mampu ditahan. Bukan saja kanena peristiwa penghapusan nomor Ata dari ponselnya, tapi juga akumulasi tindakan Ari di lapangan olahraga kemarin serta semua tindakan Ari sebelum-sebelum
“Kenapa elo hapus nomor Ata!?” kali ini Tari benar-benar hanya bertanya. Kedua tangannya yang masih dicengkeram Ari melunglai.
Lagi-lagi Ari tidak menjawab. Tapi makin dicermatinya kondisi cewek yang hanya berjarak beberapa senti di depannya itu. Dan hanya dua reaksi yang ditemuinya. Tangis tertahan yang—meskipun sesaat tadi sempat terurai dan kemudian dipaksa untuk hilang—dengan jelas masih bisa dilihatnya membayang dalam dua mata yang kini tengah ditatapnya. Dan ledakan kemarahan.
Sebagian dari hati dan dirinya menghangat menyaksikan reaksi Tari itu. Namun sebagian lagi mendingin dan mulai disergap perih.
“Lo budek ya!? Kenapa lo hapus nomor Ata!?” bentak Tari.
Baru Ari bergerak. Ditariknya kedua tangan Tari yang sedari tadi dicekalnya, melewati bahu. Memaksa tubuh cewek di depannya itu merapat ke arahnya. Seketika Tari melawan tarikan itu, berusaha keras untuk menjauh. Ari langsung mengetatkan cekalan kesepuluh jarinya.
Dibiarkannya Tari berontak, sampai cewek itu akhimya menyadari bahwa kekuatan cewek tidak didesain untuk sanggup melawan kekuatan cowok. Tari berhenti berontak. Ari tersenyum tipis dan melonggarkan cekalan kesepuluh jarinya.
“Pilih mana?” bisiknya. “Gue hapus nomor Ata, atau gue ambil simcard lo?”
Tari tertegun. Sesaat dia mengira Ari tidak serius dengan ucapannya. Tapi sorot kedua mata di depannya seketika menepiskan dugaan itu. Cowok ini tidak pemah tidak serius dengan ancamannya.
“Kenapa sih elo tuh jahat banget?” Intonasi suara Tari menurun, sadar dirinya tidak mungkin bisa menekan setan di depannya itu.
“Pertanyaan bego,” cemooh Ari, tapi dengan sorot menggoda di kedua matanya. “Jelas gue harus defensif dengan sesuatu yang udah gue anggap milik pribadi.”
Tari tercengang.
“Lo emang sialan banget!” desisnya.
“Terima kasih,” sambil menyeringai, Ari menjawab sopan. Dia lepaskan tangan kiri Tari. “Udah mau bel. Gue anter lo ke kelas.”
“Nggak usah. Gue bisa pergi sendiri!” Dengan kasar Tari melepaskan tangan kanannya yang masih digenggam Ari, lalu balik badan dan berjalan menuju tangga. Ari segera meraih kembali tangan kanan Tari dan menahan langkah cewek itu.
“Jangan jalan sendiri,” ucapnya halus. “Mata lo masih merah. Kalo nggak mau gue anter, biar Fio jemput.” Ari mengeluarkan ponsel dari saku depan celana panjangnya.
“Fio, jemput Tari di tangga bawah.”
Fio segera muncul. Bukan saja karena Ari yang meneleponnya, juga karena apa yang terjadi di ujung tangga itu sudah menjadi pembicaraan ramai. Gara-gara itu, siswa-siswa kelas sepuluh terpaksa menggunakan tangga yang terletak di jantung area kelas sebelas. Akibatnya, beberapa dari mereka jadi korban pemerasan kakak-kakak kelas sebelas.
Tak ingin tapi tak bisa mencegah, sesaat Fio menatap Ari. Bingung, ada apa lagi sekarang? tanyanya melalui mata yang jelas tidak akan mendapatkan jawaban. Kemudian diraihnya satu tangan Tari dan digandengnya teman semejanya itu menuju kelas. Keduanya pergi diiringi tatapan Ari. Ketika undakan anak-anak tangga itu telah kosong, Ari tercenung.
Perlahan disentuhnya saku belakang celana panjangnya. Tempat sebuah ponsel—yang baru dimilikinya dalam waktu belum lama—tersimpan sejak tadi. Ponsel yang hanya digunakannya untuk bejkomunikasi dengan satu orang saja.
Dikeluarkannya alat komunikasi dengan tipe terbaru itu dari sana. Jarinya sudah bergerak akan menekan tombol bergambar garis hijau, tapi mendadak dia batalkan.
Ari mematung. Kedua matanya tetap tertuju ke anak-anak tangga, namun fokusnya telah hilang dalam kedalaman gelombang benak yang menderu berputar. Akhirnya, dirinya tidak bisa lagi menghindari bagian terberat dalam rencana nekat yang diambilnya. Tak ayal, rasa cemas juga gelisah menyeruak tak terhindarkan. Juga takut yang terselip di antaranya.
Sambil menarik napas panjang, Ari memasukkan kembali ponsel barunya ke saku belakang celana abu-abunya. Kemudian dia balik badan dan meninggalkan tempat itu. Ketenangannya yang terlatih berhasil membungkus rasa gelisah, cemas, dan takutnya dengan baik. Teramat baik.
***
Tatapan-tatapan
Tari berdiri dan langsung menghentikan bahkan di saat belum seorang pun sampai di sebelahnya.
“Apaaa!?” tanyanya galak. Sambil bertolak pinggang, dipandanginya teman-teman sekelasnya.
“Nggak ada konferensi pers!” tandasnya. “Mau tau aja!”
“Yaaaah....” Iangsung terdengar koor lenguh kecewa. “Cerita dong, Tar. Dikit aja nggak pa-pa deh.”
“Iya dong. Cerita dikit aja. Tadi pagi di tangga bawah kayaknya seru tuh.”
Kalimat yang diontarkan Maya dan Jimmy jelas disambut antusias teman-teman yang lain. “Males!” jawab Tari judes. “Paling-paling lo-lo pada cuma bakalan heboh doang. Sama ngasih dukungan moril yang nggak membantu. Nggak rnembantu masih mending tuh. Dukungan dari kalian kayaknya nggak berguna malah. Iya, kan?”
Seketika di sekeliling Tari mengembang senyum-senyum sumir dan cengiran-cengir
“Nggak ke kantin?” tanya Fio pelan.
“Nggak laper,” Tari menjawab pendek sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Muka judesnya seketika berganti muram. Fio langsung bisa menduga, pasti berkaitan dengan masalah tadi pagi.
“Gue ke kantin bentar deh. Beli lemper sama minum,” katanya sambil bangkit berdini dan berjalan keluar. Ketika kembali dari kantin, dilihatnya Tari begitu serius dengan ponsel di tangannya.
“Bener-bener bersih,” desah Tari lirih. Ekspresi mukanya seperti akan rnenangis. Fio yang baru saja akan membuka daun pisang pembungkus lemper kontan meletakkannya di meja karena melihat ekspresi itu.
“Tadi pagi itu ada apa sih, Tar?” tanya Fio hati-hati. Tapi Tari seperti tidak mendengar. Cewek itu mengangkat muka dan langsung bertanya.
“Lo punya nomor HP Ata, nggak?” Kedua matanya menatap Fio penuh harap.
“Nggak. Kenapa?” Fio menggeleng. Bingung.
Tari kontan lemas. Dia terlihat seperti benar-benar akan menangis. “Beneran lo nggak punya?” tanyanya lagi. Berharap Fio akan memberikan jawaban yang berbeda.
“Ya nggaklah. Dia kan nggak pernah nelepon gue.”
Tari semakin lemas. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Menatap ponselnya yang berada dalam genggaman di atas pangkuan.
“Emangnya ada apa sih, Tar?”
“Kak Ari ngapus nomor Ata di HP gue. Emang bener-bener setan tu cowok!”
Kedua mata Fio kontan melebar.
“Udah lo cek di SMS? Missed calls atau received calls?”
“Udah. Nggak ada.” Dalam tunduknya, Tari menggeleng lemah. “Udah gue cek di semua fitur. Tiga kali! Kali aja masih bisa kelacak. Tapi nggak ada sama sekali. Bersih!”
“Ya udah. Lo telepon aja dia.”
“Nggak inget. Ata tuh nomornya susah.”
Satu ironi memang telah tercipta dari hubungan unik ketiganya. Tari tidak hafal nomor ponsel Ata, karena kombinasi angka-angkanya yang rumit. Sementara nomor ponsel Ari kini justru nyaris dihafalnya luar kepala. Bukan saja karena Ari tetap gigih meneleponnya meskipun dirinya tidak pernah sudi mengangkat dan membombardimya dengan SMS-SMS yang sering kali nggak penting bahkan kosong, juga karena nomor ponsel Ari punya kombinasi angka yang keren banget.
Enam angka belakang dan sepuluh deret angka itu terdiri atas tiga angka paling terkenal dalam sejarah peradaban manusia. Lambang kegelapan, 666. Sementara tiga sisanya adalah kebalikannya, 999.
“Yah, terpaksa lo tunggu sampe dia nelepon,” sambil mengusap-usap punggung Tari, Fio berkata pelan. Tari cuma bisa mengangguk tanpa suara. Memang tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menunggu Ata meneleponnya….
***
Namun, ternyata yang menelepon Tari pertama kali untuk menanyakan penstiwa itu adalah Angga. Sejak Ari memenangkan “pertarungan” itu, praktis yang tersisa dan hubungan Angga dan Tari adalah komunikasi via telepon dan SMS.
Tari melarang keras Angga untuk datang ke rumahnya karena takut itu akan menyebabkan Gita kenapa-kenapa.
“Yah, emang sih Kak Ari cuma kadang-kadang aja lewat depan rumah. Itu juga dulu. Sekarang kayaknya gue malah nggak pernah ngeliat dia lewat lagi. Tapi kan mendingan jaga-jaga. Kasian Gita.”
Itu alasan yang pernah dikatakan Tari dulu. Angga terpaksa setuju. Namun sejak kemunculan Ata, tanpa sadar Tari tidak lagi antusias mempertahankan hubungan yang hanya berpegang pada sisa-sisa fondasi itu. Karena hati kecilnya amat sangat menyadari, meskipun kerap dengan sengaja disangkalnya dengan berbagai macam pembelaan, kenyataannya kini Angga memang tidak lagi mampu melindunginya dari Ari.
Angga jelas bisa merasakan perubahan Tari itu. Sangat. Karena sekarang Tari tidak lagi sering meneleponnya lalu mengadukan semua tindakan yang dilakukan Ari.
Angga mencium kehadiran seseorang.
Tapi, karena sejak awal ini memang bukan soal hati, secara pribadi dan emo Angga tidak peduli siapa yang akhirnya berhasil memiliki Tari. Asal bukan Ari!
“Lo diapain Ari tadi pagi?”
Begitu Tari mengangkat panggilannya, Angga langsung ke inti masalah, bahkan tanpa mengucapkan “halo”.
Tari tergeragap. Meskipun pertanyaan itu sudah diduganya, cara Angga menanyakan, langsung di kalimat pertama, juga intonasi pengucapannya, seketika membuat Tari merasa tersudut. “Biasalah, digangguin,” dia mencoba berkelit. “Elo kan tau sendiri, dia tuh hobi banget gangguin gue.”
“Iya, gue tau,” jawab Angga halus. “Dan gangguannya selalu kelewatan. Makanya abis itu lo selalu nelepon gue, ngadu. Tapi sekarang kok nggak lagi ya? Kalo gue nggak nelepon, gue rasa lo juga nggak akan cerita soal kejadian tadi pagi di deket tangga. Trus kejadian di lapangan basket waktu itu, yang segitu hebohnya, lo juga nggak cerita. Kenapa, Tar?”
Tari terkesiap. Dalam waktu kurang dan lima menit, sudah dua kali dia merasa disudutkan Angga lewat kalimat-kalimat
“Tari? Halo?” Angga mengusik keterdiaman Tari, tetap dengan suara halus.
“Yaaah, dia kan emang begitu, hobi gangguin gue,” kernbali Tari berkelit.
“Sekarang bukan soal Ari yang gue tanyain. Kayak yang lo bilang barusan, dia emang begitu, hobi gangguin elo. Yang gue tanya, kenapa sekarang lo jarang banget nelepon gue?”
Tari mengeluh dalam hati. Kali ini benar-benar tersudut. “Jangan sekarang deh ceritanya. Besok aja ya. Gue lagi banyak PR nih. Nggak banyak sih. Cuma satu, fisika doang. Tapi soalnya banyak. Secara dan SMP gue bolot banget fisika.”
Tari mencoba mengulur waktu. Berharap besok dia telah menemukan alasan yang tepat. Di seberang, Angga tertawa pelan.
“Sekarang aja deh,” ucap Angga. Nada suaranya tenang namun tak terbantah. “Soalnya gue udah ada di depan rumah lo nih. Soal PR fisika, gampang. Ntar gue bantuin. Biar tukang tawuran, gini-gini gue pakar kalo urusan mata pelajaran yang satu itu. Yah, kalo curna nilai delapan sih, gue jamin di tangan. Oke?”
Angga langsung menutup telepon. Seketika Tari melompat dari kursi, langsung diserang panik. Belum sempat dia memikirkan kalimat-kalimat
“Ada Angga di teras,” ucap mamanya begitu dibukanya pintu.
“Iya, Ma.” Tari mengangguk. Cemas. Bingung.
Begitu Tari muncul di pintu, sepasang mata Angga langsung merangkumnya. Tidak ada sapa pembuka. Tidak ada senyum seperti biasa. Hanya kedua matanya yang lekat menatap. Menuntut penjelasan dalarn bahasa hening. Diam-diam Tari menarik napas panjang.
Menghadapi Ari bersama-sama, tanpa sadar selama ini Tari telah menganggap dirinya dan Angga seperti satu kesatuan. Kini, berhadapan dengan cowok itu dengan sesuatu yang tidak lagi bisa dibagi bersama, sebuah rahasia, Tari nyaris tidak mempunyai pertahanan untuk menutupinya.
Meskipun mati-matian coba diredam, kegelisahannya terbaca jelas. Juga rasa bersalahnya. Seperti tirai tipis yang hanya menutupi identitas namun menampakkan bentuk utuh di baliknya, bahkan sampai pada setiap detailnya.
Kegelisahan Tari, rasa bersalah yang terekspresi begitu jelas di wajah cewek itu, peristiwa pagi tadi yang didengarnya lewat Gita, dan peristiwa-peris
Sementara yang dilakukan Tari adalah menatap ke mana saja, berganti-ganti fokus, asal bukan cowok di dekatnya. Satu-satunya kalimat yang terucap dari bibirnya, beberapa menit yang lalu, tidak menjelaskan apa-apa.
“Gue nggak mau Gita kenapa-napa.”
Alasan yang sepenuhnya benar tapi juga sepenuhnya tidak benar, tergantung dari sudut mana dia dilihat. Akhirnya Angga mengambil inisiatif. Dan cowok itu tidak merasa perlu untuk menggunakan prolog. Buang waktu.
“Ada orang lain ya, Tar?”
Tari terkesiap. Mukanya sontak memucat.
“Nggak. Nggak. Ini nggak kayak yang lo kira kok,” ucapnya buru-buru.
Reaksi Tari yang begitu cepat itu membuat Angga tersenyum lebar. Dia bangkit berdiri lalu pindah ke sebelah Tari. Kemudian cowok itu menoleh dan dengan kepala agak dimiringkan, ditatapnya cewek di sebelahnya itu.
“Gue kenal dia, nggak?” tanyanya halus.
“Ini tuh nggak kayak yang lo kira, Ga. Jauh deh,” kembali Tari membantah. Suaranya mulai diwarnai kegugupan.
“Elo tuh ya, yang gue tanya apa, lo jawabnya apa.”
“lya, tapi ini sama sekali nggak kayak yang lo kira.”
“Menurut lo, emang apa sih yang gue kira?”
Telak!
Muka Tari sontak merah padam. Angga tersenyum ketika menunggu beberapa saat, dan pertanyaan terakhirnya ternyata membuat Tari benar-benar bungkam. Kemudian senyum itu hilang, berganti dengan helaan napas panjang.
“Lo pikir gue bakal marah, ya? Elo salah,” ucapnya pelan. “Gue malu. Harusnya gue berdiri di depan elo dan bukannya ngebiarin elo begini. Sendirian ngadepin Ari.”
Tari menatap Angga dengan sejuta kata yang tercekat di tenggorokan. Mewujud dalam bisu dan keterdiaman. Sementara tatap Angga yang selalu tertuju pada Tari sejak detik kemunculannya, kini meredup perlahan.
“Kalo akhirnya ada orang lain yang maju dan berdiri di depan elo...,” Angga bicara, kini dalam kepasrahan. Kedua matanya menatap Tari dengan sorot seakan-akan cewek yang teramat dekat dengannya itu berada sangat jauh di batas horison sana. “Yah, gue harus ikhlas. Nggak rela sebenemya, tapi harus.”
Kemudian diulurkannya tangan dan diusapnya kepala Tari.
“Baik-baik lo ya. Jangan sampe ada info yang sampe ke kuping gue kalo lo kenapa-kenapa. Pasti akan nyakitin gue banget, karena gue nggak bisa nolong.”
Angga meraih cewek yang terdiam pucat di sebelahnya itu, sejenak menenggelamkann
Mulut Tari sudah terbuka, namun kemudian mengatup kembali. Ditelannya sakit untuk seribu kata yang tidak bisa diucapkannya.
“Tolong maafin gue,” ucap Angga lirih.
Tari menatap cowok di sebelahnya itu dengan pandang nanar. Wajah yang dihiasi senyum. Sepasang mata yang menatapnya lembut. Kata-kata yang diucapkan dengan nada halus. Pelukan sesaat yang terasa hangat dan menenangkan. Namun semua itu mengiringi sesuatu yang menyakitkan.
Ini adalah ucapan perpisahan!
Bagi Angga, ini bukan soal hati. Bukan soal rasa. Ini murni dendam. Asal bukan ke Ari, cewek ini boleh pergi ke mana pun dia suka. Asal bukan pada Ari silakan dia berlari pada siapa pun juga.
Tiba-tiba Angga tertegun. Dia merasakan, dalarn dirinya ternyata mulai muncul tanda tanya. Meluluhlantakka
Benarkah ini yang sungguh-sungguh
Bersambung ke bab 10.2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar