Rabu, 24 Mei 2017

JINGGA DAN SENJA BAB 9.3



Jingga dan Senja
karya : Esti Kinasih
Bab 9 (3)


 Renata menghampiri Tari dengan sesuatu ditangan kanannya. Ternyata baju seragam Tari yang sudah dalam keadaan terlipat rapi.
“Dari kak Ari nih,” ucapnya dengan suara pelan, sambil mengangsurkan seragam ditangannya pada sang pemilik.
“Makasih ya Ren,” ucap Tari, juga dengan suara pelan. Renata mengangguk dan tidak bicara apa-apa lagi. Ditepuk-tepuknya bahu Tari, kemudian melangkah menuju bangkunya sendiri. Suasanan kelas X-9 kembali normal. 20 menit jam olahraga yang msh tersisa langsung dimanfaatkan oleh sebagian besar penghuni kelas untuk merapikan catatan biologi. Karena dari desas-desus yang santer beredar, Bu Endang akan melakukan pemeriksaan catatan mendadak. Sebagian besar dari mereka masih mengenakan kaus olahraga, menunggu sampai keringat benar-benar kering. Sayangnya, suasana yang sudah membaik dan tenang itu dirusak oleh kedatangan Oji. Tiba-tiba saja antek Ari itu muncul diambang pintu dan langsung memasuki kelas. Tangan kanannya menenteng paperbag warna merah hati. Seisi kelas kontan terdiam, menghentikan kegiatan masing-masing dan memfokuskan perhatian pada sang senior itu. Mereka sudah bisa menduga, kemunculan Oji pasti berkaitan dengan peristiwa dilapangan.
“Dari Ari.” ucap Oji pendek. Diletakkannya paperbag itu di meja Tari. Tari menatap paperbag itu dengan pandang dingin. “Kenapa ngak dia sendiri yang datang minta maaf?” tanyanya ketus.
“Weits! Ati-ati lo ngomong,” ucap Oji dengan nada tajam.
“Siapa bilang Bos minta maaf? Dia cuma nyuruh gue ngasih ni coklat. Buat elo katanya.”
“Trus, kalo bukan untuk minta maaf, ngapain dia ngasih-ngasih coklat?”
“Ya ngasih aja. Emangnya kudu pake alesan? Coklat mahal tuh. Langganannya orang-orang kaya sama selebriti. Lo pasti belum pernah ngerasain kan? Makanya dia beliin.”
Iiih! Tari menatap Oji dengan mata menyipit saking ngak percayanya. Kok ada ya, cowok yang brengseknya kayak Ari sama jongosnya ini!
“Bawa lagi tu coklat. Gue ngak sudi. Kalo gue mau, gue bisa beli sendiri. Semahal apa sih harga coklat?” Oji tidak mengacuhkan ucapan Tari itu. Dia malah mengeluarkan isi paperbag. Seisi kelas kontan ternganga. Mereka langsung menyesalkan keputusan Tari menolak pemberian Ari itu. satu stoples coklat yang benar-benar cantik. Bentuknya macam-macam. Ada yang lucu, ada yang manis, warna-warni pula. Kekaguman teman-teman sekelas Tari yang menjelma dalam bentuk dengungan samar membuat Oji mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Cowok itu yakin Tari pasti kagum juga dan tidak jadi menolak. Dugaannya melesat.
“Kakak kali, yang belum pernah ngerasain coklat kayak gitu,” ejek Tari.
“Gue sih udah pernah. Biasa aja. Cuma coklat kayak gitu aja sampe jadi langganan seleb sama orang kaya. Ngak mungkin! Bohong lo! Belagu!”
“Oh, gitu.” Sekali lagi Oji mengangkat alis.
“Oke.” Dikeluarkannya ponselnya dari saku celana.
“Coklatnya ditolak Bos.” Seisi kelas kontan menahan napas. Bakalan gawat nih!
“Lo tuh ya, apa-apa ngadu, apa-apa ngadu,” desis Tari kesal.
“Ini laporan. Bukan ngadu,” jawab Oji kalem. Perhatiannya kemudian kembali ke ponsel yang masih menempel di satu telinganya itu.
“Siap Bos!” dia mengangguk-angguk. Dijauhkannya ponselnya dari telinga.
“Kata Bos Ari, terima, terima semua. Tolak, tolak semua. Jadi, sini seragam lo. Kasih ke gue.”
“Lo sinting ya!?” Tari kontan melotot. Oji langsung menempelkan kembali ponselnya ke telinga. “Gue dikatain sinting Bos!” lapornya dengan intonasi seolah-olah dirinya terluka dan sakit hati. “Gitu?...siap Bos!” Cowok itu mematikan ponselnya, kemudian menatap Tari.
“Beneran nih elo ngak mau terima coklatnya?” kembali dia memastikan untuk yang terakhir kali. “Iiiih!” Dengan gemas Tari mengetuk-ngetukan bolpoinnya ke meja.
“Kakak tuh budeknya parah banget ya? Nih, gue ulangin. Dengar ya...” Tari diam sesaat. Kemudian dia teruskan kalimatnya dengan penekanan. “Gue...ngak...mau...terima... tu coklat! Ngak akan!!!” Sekali lagi sebagian besar teman-teman sekelas Tari menyesalkan keputusan itu. Kalau Tari ngak sudi menerima apalagi memakannya, banyak banget mulut yang siap menampung. satu stoples gitu doang kurang malah. Gila, tuh coklat bikinan toko coklat te-o-pe be-ge-te. Harganya dipastikan muahal. Rasanya juga bisa dipastikan uenak. Bentuknya juga lucu-lucu buanget. Pokoknya ngak bisa dibandingin sama coklat-coklat yang dijual di supermarket-supermarket. Apalagi coklat yang dijual dikantin. Juauh!
“Oke.” Oji mengangguk. Sikapnya tetap santai. Diambilnya stoples berisi coklat itu, lalu dia masukkan kembali kedalam paperbag. Kemudian didekatkannya ponselnya ke telinga setelah sebelumnya ditekannya tombol kontak.
“Fix, Bos. Dia ngak mau terima coklatnya.” Seisi kelas kontan jadi tegang. Termasuk Tari sendiri. Tapi dia sudah bertekad, akan dilawannya Ari habis-habisan. Biar tu cowok tahu, ngak semua orang takut sama dia. Juga ngak semua cewek naksir dia dan pastinya, ngak semua cewek gampang lumer sama rayuannya. Apalagi cuma pake coklat! Tak lama Ari muncul. Suasana kelas jadi semakin tegang. Kedua matanya langsung tertancap pada Tari. Bahkan ketika Oji mengangsurkan paperbag berisi stoples coklat cantik itu, tatapan Ari tidak berpaling. Diterimanya paperbag itu tanpa bicara. Cowok itu menunjukan ucapan pertamanya untuk Fio.
“Gue pinjem bangku lo sebentar, Fi.” Fio jelas langsung melaksanakan perintah itu.
“Gue ngungsi dulu ya, Tar.” ucapnya lirih. Dengan rasa bersalah tapi tak bisa berbuat apa-apa, Fio bangkit berdiri dan mengungsi ke bangku kosong terdekat.
Sambil meletakkan paperbag diatas meja, Ari menggeser bangku Fio yang sekarang kosong itu, mendekati Tari. Cowok itu duduk dan meletakkan kedua tangannya diatas meja. Kesepuluh jarinya lalu saling bertaut. Kemudian, dengan punggung sedikit dibungkukkan agar sejajar dengan Tari, Ari menoleh dan menatap cewek yang posisi duduknya telah dibuatnya teramat dekat disebelahnya itu. Wajah yang cemberut, mata yang memerah serta menyorotkan kemarah, dan bibir yang terkatup rapat, membuat Ari sejenak menarik napas panjang.
“Sampe kapan lo mau terus ngelawan gue?” tanyanya dengan suara pelan. Tari tidak menjawab. “Bodyguard lo, si Angga, udah ngak ada. Lo mau ngelawan gue sendirian?” Lagi-lagi Tari tidak menjawab. Gangguan Ari yang beruntun dilapangan tadi membuat kekuatan mentalnya mencapai batas akhir. Tapi kedua matanya menentang tatapan Ari, lurus dan terang-terangan. Ari tersenyum. “Capek lo ntar,” ucap Ari lunak. Digesernya paperbag didepannya ke depan Tari. “Ni coklat gue sendiri yang beli. Bukan nyuruh Oji atau orang lain. Gue sendiri yang jalan kesana tadi dan ini pertama kali nya gue ngasih sesuatu buat cewek.” Tari menatap paperbag itu dengan pandangan dingin. Bentuk penolakan tanpa kata-kata. Ari menunggu. Ketika beberapa detik terlewat dan cewek disebelahnya itu tak juga memberikan reaksi lain selain diam, diulurkannya tangan kirinya dan diletakkannya di puncak kepala Tari. Seketika Tari berusaha mengelak dgn menjauhkan kepalanya, tapi ternyata kelima jari Ari mencengkeram puncak kepala Tari seperti jari-jari sebuah robot. Cowok itu kemudian memaksa Tari menatap kedua matanya dan ketika kemudian dia bicara, nada lunaknya mulai diwarnai penekanan.
“Jadi lebih baik lo berenti ngelawan. Karena kalo lo terus kayak gini, terus ngelawan gue, lama-lama gangguan gue akan semakin parah dan belum tentu gue bersedia berenti meskipun lo udah nyerah.” Monolog itu, karena Tari terus bungkam, diucapkan Ari dengan suara pelan. Tapi karena suasana kelas yang sontak hening begitu pentolan sekolah itu muncul di ambang pintu tadi, suara Ari bisa ditangkap oleh hampir sebagian besar isi kelas. Termasuk Oji, yang duduk diatas meja Devi, dua meja dibelakang meja Tari. Cowok itu langsung mengatupkan kedua bibirnya, menahan senyum. Ngasih coklat tapi buntutnya ngancem. Emang dasar si Ari! ucap Oji dalam hati, geli. Tiba-tiba Ari mendekatkan tubuhnya dan berbisik di telinga Tari.
“Ni coklat, murni. Bukan karena Ata abis telepon gue. Curhat lo pasti penuh dengan tangis dan air mata ya, karena tadi ditelepon Ata sampe ngamuk. Sama sekali bukan karena itu. Tanpa Ata telepon pun, gue udah niat ngasih coklat ke elo.” Ari menjauhkan kembali tubuhnya. Diusap-usapnya puncak kepala Tari.
“Okeee?” nada suaranya kembali normal. “Tolong dipertimbangkan omongan gue barusan. Kemudian cowok itu bangkit berdiri.
“Balik Ji,” ucapnya sambil berjalan kearah pintu. Oji langsung melompat turun dari meja yang didudukinya dan menjajari Ari. Tari mengikuti kepergian pentolan sekolah itu dengan tatapan benci. Begitu Ari telah hilang dibalik pintu. Tari langsung berdiri. Dengan kesal disambarnya paperbag berisi coklat pemberian Ari, lalu dilemparnya begitu saja kearah kerumunan teman-temannya. Dengan sigap, Chiko buru-buru menangkap. “Lo-lo pada makan deh tuh coklat. Abisin!”
“Asyeeeeeiiik!!!” langsung terdengar seruan-seruan riang. Setelah mengambil ponselnya dari dalam tas, Tari kemudian bergegas keluar. Melihat itu Fio langsung berdiri. Tapi ternyata untuk mencapai pintu yang jaraknya tidak terlalu jauh itu, sekarang diperlukan usaha keras. Bentuk coklat yang lucu-lucu dan warna-warni pula, ditambah jumlahnya yang mungkin cuma setengah dari jumlah penghuni kelas, kontan mengubah ruang kelas itu menjadi medan pertempuran memperebutkan coklat pemberian Ari. Nongender. Cowok-cewek. Saling tarik, saling dorong, saling rebut. Ruang kelas jadi penuh manusia yang berlarian ke segala arah. Meja dan bangku jd berantakan. Cewek-cewek menggunakan serangan yang para cowok ngak tega untuk membalas. Nyubit. Gantinya, para cowok melancarkan serangan balik yang membuat para cewek berlarian menghindar atau menjerit-jerit. “Ayooo, kasih ngak coklatnya ke gueee? Kalo ngak, entar gue peluk nih. Atau gue cium malah.” Alhasil, yang kemudian keluar sebagai pemenang sebagian besar emang cowok-cowok. Fio, yang setengah mati berusaha mencapai pintu untuk menyusul Tari, akhirnya berseru kesal.
“AWAS KENAPA SIIIH!?” Dia entakkan kaki keras-keras ke lantai.
“Dasar udik. Baru coklat gitu aja direbutin. Pada ngak pernah makan coklat kayak gitu ya? Dasar norak!”
“SPONGEBOB SQUAREPAAAAAANTS!!!” sebuah seruan keras menyertai sebuah tangan yang tiba-tiba terjulur tepat didepan muka Fio, menggenggam salah satu tokoh kartun favoritnya, Spongebob. “Iih, lucuuuuu!” Fio langsung histeris.
“Buat gue! Buat gue!” serunya sambil berusaha merebut coklat itu.
“Enak aja!” Seketika tangan itu, yang ternyata milik Jimmy, menghilang dari depan muka Fio.
“Lo ngak liat apa? Gue harus membunuh 5 orang teman demi mendapatkan si busa kotak.” Jimmy menjauh sambil ketawa-ketawa puas, karena Fio adalah cewek kesekian yang histeris melihat coklat ditangannya tapi tak berdaya untuk merebut.
“Kok gue jadi ikut-ikutan gini sih?” Fio tersadar. “Ck!” Dijitaknya kepalanya sendiri, lalu buru-buru dicarinya jalan untuk mencapai pintu. Fio berhasil keluar kelas bertepatan dengan dua orang guru dari dua kelas yg bersebelahan mendatangi kelasnya dengan muka marah. Soalnya kegaduhan dikelas itu sudah seperti ditengah pasar. Ketika Fio sampai digudang dan membuka pintunya yang ternyata tidak dikunci, dilihatnya Tari sedang bicara ditelepon dengan nada berapi-api.
“Iya, barusan aja dia ngasih coklat. Tapi maksa. Gue kudu terima. Udah gitu, abis itu gue diancem, disuruh berenti ngelawan dia. Katanya kalo gue ngak berenti ngelawan, dia gangguinnya juga bakalan makin parah...coklatnya gue kemanain?...Gue sebar dikelas!...Ngak sudi gue makan coklat yang dikasih kak Ari. Ntar kalo dia taroin racun, gimana hayo? Atau dia kasih jampi-jampi. Dari musuhan trus kami jadi temenan deh gitu. Malah trus jadi akrab banget...Kok lo ketawa sih?...Hiperbola?...Ngaklah. Itu bisa kejadian tau!” Fio mengunci pintu gudang. Sebentar lagi bel istirahat berbunyi. Jangan sampai ada yang tidak sengaja membuka pintu lalu memergoki pembicaraan Tari. Cewek itu kemudian menyandarkan punggung ke dinding. Menunggu Tari selesai menumpahkan kemarahannya, yang bahkan baru diteleponnya 30 menit yang lalu. Begitu menutup telepon, Tari langsung menatap Fio.
“Lo punya duit ngak?”
“Buat apa?” Fio balik menatap, bingung.
“Ya beli baju seragam baru lah. Dikoperasi. Masa gue mesti pake baju seragam gue yang tadi dipake kak Ari? Bekas keringetnya dia gitu. Gila kali!”

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar