Rahwana adalah pecinta sejati, hanya sebagian orang yang memahamu kesucian Cinta Rahwana kepada Sinta Seperti halnya Cintaku kepada seorang Gadis yang sampai saat ini tetap Aku cintai secara Tulus tanpa kalkulasi, Karena disaat kita mampu menjelaskan kenapa Cinta, itu bukan lagi Cinta itu Kalkulasi namanya, Cinta tidak karena-karena..
***
Rahwana tak pernah mengira, wangi bunga-bunga yang biasanya merekah ruah bagai sihir terindah di sekujur penjuru Taman Asoka ternyata bisa menjadi siksa yang mumpuni.
Pun tak pernah terbayang oleh Rahwana, meski dalam mimpi-mimpinya yang paling
menyedihkan, bahwa pada suatu titik dalam hidupnya, akan tiba saat seperti ini.
Dia. Rahwana. Sang raja yang perkasa.
Saat ini, ia bukanlah Sang Dasamuka, dengan tatap garang sepuluh pasang mata yang sanggup membakar jiwa-jiwa hingga tak sanggup lagi
berdiri. Kepalanya tak sepuluh. Tatapannya jangankan membunuh. Kepalanya hanya satu,
lusuh, tunduk, menyedihkan, terpaku menatap entah apa di bawah sana yang mengikat kedua kakinya, memasung raga sekaligus jiwanya di tempat.
Di pojok semesta yang gelap ini, udara dipenuhi wangi. Persis seperti aroma udara Taman Asoka,
batin Rahwana berulang-ulang. Wangi itu. Wangi itu adalah satu-satunya sensasi yang mampu dirasakan panca indranya yang kacau balau.
Wangi itu saja yang memenuhi pusaran
benaknya, berputar-putar memilin kenangan demi kenangan di dalam sana.
Segala kenangan yang tertuju kepada satu nama
saja..
Kepada Shinta.
***
Angkasa meledak!
Rahwana terlonjak. Tubuhnya bak dialiri sejuta aliran petir yang membangunkannya dari tidur-
tidur tak jelas bersama mimpi-mimpi yang getas.
Kedua bola matanya berputar-putar panik.
Mencari sumber suara yang nyaris membuatnya betul-betul tuli pula. Dadanya gemuruh, menahan debaran jantungnya yang menggila.
Zat-zat pertahanan dalam aliran darahnya membanjiri otaknya.
Sedikit demi sedikit, petir itu reda. Pelan-pelan, Rahwana kembali ke alam nyata. Bagian-bagian
tubuhnya mulai kembali dapat dirasakannya. Aliran darahnya mulai menjadi lebih waras.
Wangi itu masih ada. Wangi Taman Asoka yang menyiksa mimpi-mimpinya. Tapi… ada yang berbeda. Dunia tak lagi gulita. Putih. Putih di mana-mana. Sekeliling Rahwana seperti tersusun
oleh tembok cahaya yang tak menyisakan sedikit pun ruang untuknya bersembunyi. Terang yang
menusuk penglihatannya, membuat sisa-sisa kegagahan dalam tatapnya semakin ciut. Dan di hadapan Rahwana, berdiri di satu titik dari mana tampaknya semua cahaya itu berasal,
berdirilah sosok yang tak asing lagi baginya.
Rama.
***
Meski sejuta cahaya membutakannya, lebih menyakitkan daripada gulita yang dingin membekukan, Rahwana tak kuasa melepaskan jerat-jerat ingatannya. Melihat Rama sontak
membuatnya murka. Oh, tidak, tidak… tidak….
Tidak. Ia tak boleh lagi murka. Ia sudah
bersumpah. Sudah berjanji, demi air mata Shinta yang mengalir pada siang itu, menjadi embun
sewangi bunga-bunga Asoka. Ia sudah
mengangkat sumpah…. Demi engkau, Shinta yang mulia, kupecahkan segala amarah. Demi engkau, Shinta yang mulia, kutenggelamkan segala
murka. Wajah Rama melejit di antara garis- garis cahaya putih, tepat ke dalam sukmanya.
Wajah itu begitu tampan, tenang, bijaksana. Tak tampak satu garis pun emosi keji pada otot-otot
wajahnya. Ah, ia justru tersenyum. Tersenyum menatap Rahwana yang tak kuasa bergerak bahkan sedikit saja.
Tubuh Rama bergerak perlahan, menghampiri tubuh Sang Dasamuka. Lalu diulurkannya tangannya. Jemarinya yang ramping menyentuh
puncak kepala Rahwana. Sesaat, ujung-ujung jemari itu bertengger, terasa sejuk di dahi Rahwana yang panas membara. Senyum Rama
kembali mengembang….
Tubuh Rahwana mengejang. Angkasa kembali
meledak. Rahwana menjerit murka.
***
Shinta. Shinta. Shinta.
Shinta, berbalut kain keemasan dan merah muda, berjalan perlahan dalam ruang tahanannya di Taman Asoka. Shinta, jiwa cantik yang terpenjara karena cinta. Diam-diam, Rahwana mengamatinya. Ada api
yang menjilat-jilat di dalam dadanya. Sebagai makhluk yang juga masih berjalan di dalam dunia, tak pelak Rahwana masih memiliki hasrat.
Apalagi jika dihadapkan dengan keindahan luar biasa yang selama ini diburunya hingga ke ujung
dunia.
Rahwana mengepalkan tangannya erat-erat.
Kelelakiannya membuncah. Nafsunya membubung nyaris hingga ujung jelajah.
Tidak!
Dengan tangannya yang perkasa, Rahwana menampar kepalanya sendiri. Tidak. Shinta
bukan wanita biasa. Ia titisan dewi, bukan betina mana-mana saja. Jika hanya demi pemuas hasrat kejantanannya, Rahwana bisa mengambil perempuan mana saja dari segenap penjuru Alengka. Tidak. Bukan Shinta. Tak pantas Shinta.
Perlahan, gemuruh hasrat itu padam. Digantikan oleh gemuruh lain, yang asalnya jauh dari dalam sukmanya. Bahkan Rahwana, monster durhaka
yang diburu Dewa Wisnu ke segenap semesta pun, sanggup jatuh cinta. Dan hanya kepada Shinta.
<p>"Shinta, Shinta, tak akan aku nodai dirimu.
Tak akan aku rusak kesucianmu. Memandangmu
cukup, meski penglihatan akan dirimu bukannya
tanpa siksa". </p>"Shinta, Shinta…. Oh, Dewa, jika cinta ini terlarang, mengapa Kau bangun ia begitu megah dalam sukmaku? *)"
***
Sejuta ingatan itu menjadi benang-benang yang saling membelit dalam benak Rahwana.
Ditingkahi cahaya lain, keemasan kali ini, yang seperti merembes keluar dari tubuh Rama, segala isi benaknya mulai bercampur baur.
“Tidurlah, Rahwana,” didengarnya Rama berbisik perlahan. “Tidurlah, tidurlah. Tak usah lagi resah. Masamu sudah berakhir, Rahwana. Saatnya jiwamu reda….”
“Rama…,” entah bagaimana, suara serak menyedihkan bagai suara hewan entah apa berhasil menyelinap keluar dari tenggorokannya.
“Wahai, Rama, Rama…. Sumpahku padamu,
Shinta tak kunodai…. Shinta tak kukotori….
Sedikit pun tidak…. Istrimu masih suci….”
Mata Rama adalah satu-satunya yang seolah bicara. Secercah binar yang ia tak paham apa.
Cahaya keemasan itu mulai menggeliat di seputar dirinya. Bayangan wajah Rama bergoyang dalam
pandangannya, mengabur dan mengabur bersama isi kepalanya.
“Shinta…. Shin…,” dicobanya memanggil pujaan hatinya. Namun rupanya bibirnya telah menjadi
mati gerak. Seluruh tubuhnya perlahan-lahan mengosong.
Seolah seluruh udara dalam tubuhnya
tertarik keluar. Seolah raganya mengempis bersama, entah bagaimana, keberadaannya….
***
Wangi itu masih ambang-ambang di udara. Tipis saja, nyaris tak tertangkap oleh indra penciuman Rama.
Cahaya-cahaya itu masih di sana. Berpusar di sekeliling Rama, raja mereka yang mulia. Rama
sendiri berdiri tegak, di belakang bahunya seolah jubah keemasan yang berkibar.
Di kaki Rama, teronggok tubuh perkasa yang menyedihkan. Tubuh itu dingin. Matanya masih
terbuka, namun menatap kepada kekosongan abadi yang entah ada di mana. Wajahnya pucat, otot-ototnya yang indah tak berdaya di
balik kulit yang pias.
Rahwana, raja Alengka, telah mati. Mati
semati-matinya.
Di tangan Rama, sesuatu sewarna pelangi berdenyut megap-megap, seolah turut kehabisan
udara, seperti raga yang telah ditinggalkannya.
Itu rindu. Rindu milik Rahwana. Rindu warna- warni, berisi kelebatan langkah kaki Shinta di Taman Asoka.
Perlahan, Rama mengepalkan tangannya. Rindu itu berdenyut semakin sekarat. Lalu, akhirnya,
ia terburai di sela-sela jemari Rama. Pecah menjadi ribuan tetes air mata, jatuh bertaburan di atas dada Rahwana yang tak lagi berudara.
***
Di ambik dari
konser Sujiwo Tejo yang
bertajuk “Maha Cinta Rahwana”, digelar di
Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 30-31 Agustus 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar