Jingga
dan Senja
karya : Esti Kinasih
Bab 4 (2)karya : Esti Kinasih
Bel masuk sudah berbunyi, tapi Ari justru melangkahkan kakinya menuju kantin. Dia sedang nggak mood belajar. Daripada nanti dibuatnya kelas jadi rusuh dan ingar-bingar, lebih baik dia menyepi. Jadi paling nggak yang rugi cuma dirinya sendiri.
Setelah selesai melahap dua potong arem-arem bersama segelas teh manis hangat, Ari menghampiri Mas Wiji, pedagang gorengan yang saat itu sedang bersiap-sipa membuat adonan bakwan. Mas Wiji itu perokok berat dan selalu punya stok rokok yang cukup buat orang se-RT, yang disimpannya di dalam salah satu laci.
“Mas, rokok sebungkus dong,” kata Ari.
Meskipun stok rokoknya bukan untuk dijual, terhadap murid yang satu ini Mas Wiji membuat pengecualian. Tanpa banyak cakap, dikeluarkannya sebungkus lalu diserahkannya pada Ari. Setelah menerimanya, Ari mengulurkan selembar uang dan langsung berlalu tanpa meminta kembalian.
Dengan sebatang rokok terselip di bibir, Ari menarik sebuah bangku ke dekat jendela yang menghadap ke arah lapangan dan area depan sekolah. Cowok itu lalu duduk diam dengan kedua kaki diletakkan di ambang jendela. Kedua matanya menatap keluar sementara kedua bibirnya mengisap lalu mengembuskan asap rokok tanpa henti.
Tidak dipedulikannya kesibukan para pedagang di kantin yang mulai menyiapkan dagangan masing-masing. Sama seperti sikap para pedagang itu, yang tak acuh dengan keberadaan Ari. Karena pemandangan cowok itu membolos saat jam pelajaran memang sudah jadi hal biasa.
“Gerak cepat juga tu anak!” desis Ari, saat teringat ucapan Tari bahwa Angga mengajaknya makan. Tekadnya semula untuk membicarakan hal ini kalau urusannya memang soal hati, sudah batal sejak diketahuinya Tari menyandang dua kata yang baginya sangat sacral.
Cewek itu hanya boleh bersamanya!
Tiba-tiba ponselnya bordering. Nama Oji muncul di layar.
“Ya?”
“Cabut, Bos?”
“Hm…”
“Bu Sam nanyain elo tuh.”
“Bilang gue lagi PMS.”
“Oke.” Di seberang, Oji menyeringai. “Katanya dia lagi nggak mood belajar, Bu. Soalnya lagi PMS!” lapor Oji dengan suara lantang. Seisi kelas kontan tertawa riuh.
Ari yang bisa mendengar karena Oji sengaja tidak mematikan ponselnya, menyeringai lebar lalu tertawa tanap suara.
Muka Bu Sam langsung jadi kencang. “Di mana dia sekarang?” tanyanya galak. Oji menempelkan lagi ponselnya ke kuping.
“ Bos di mana sekarang?” tanyanya.
“Kantin kelas sepuluh.”
“Oh,” Oji mengangguk lalu menjauhkan ponselnya dari kuping. “Lagi check-up, Bu. Di tempatnya Dokter Boyke. Katanya itunya sakit,” Oji menempelkan lagi poselnya ke kuping. “Apanya yang sakit, Bos?”
Meskipun yang didengar Oji hanya tawa Ari – yang terdengar jelas dilakukan bersamaan dengan mengisap rokok lalu mengembuskan asapnya – Oji menjabarkannya dengan kata-kata karangannya sendiri.
“Dadanya yang sakit, Bu. Rasanya kayak bengkak gitu. Katanya kalo dipegang-pegang sakit.”
“Cara megangnya dong,” sela Ridho. “Kalo kenceng-kenceng ya jelas sakitlah. Megangnya yang lembut, pake perasaan.”
Oji menyempatkan diri menoleh ke arah Ridho lalu merespons komentar temannya itu bukan hanya dengan sikap yang serius, tapi ekspresi muka yang juga sama.
“Kacau lo, man. Porno lo.” Kemudian pandangannya kembali ke Bu Sam. “Sama itunya, Bu. Bagian di bawah pusarnya juga sakit. Maksudnya bagian perut di bawah pusar,” Oji meneruskan laporannya, tetap dengan gaya seolah-olah itu laporan ilmiah.
Seketika kelas meledak lagi dalam tawa. Juga Ari yang berada di kantin. Cowok itu sampai menurunkan kedua kakinya, terbahak-bahak sampai badannya membungkuk.
Bu Sam sudah setengah mati menahan marah, tapi beliau tahu tidak ada yang bisa dilakukan karena biang keroknya tidak ada di tempat. Akhirnya guru itu memerintahkan kelas untuk diam, bukan hanya dengan bentakan, tapi juga dengan penghapus whiteboard yang dia hantamkan ke permukaan meja.
“Kita mulai. Jangan buang-buang waktu. Kalian sudah kelas dua belas!” ucapnya dengan nada dingin dan tajam.
Masih dengan sisa-sisa tawa, murid-murid di depannya mulai membuka buku masing-masing. Oji menempelkan ponselnya ke kuping degan gerakan sembunyi-sembunyi.
“Met cabut ya, Bos. Have a nice madol,” bisiknya dan langsung ditutupnya telepon.
Ari tersenyum. Tapi begitu Oji menutup telepon, Ari sadar dia lupa menanyakan nomor telepon Tari.
“Goblok!” makinya pada diri sendiri. Akhirnya dia putuskan untuk mendatangi Tari lagi, jam istirahat pertama nanti. Sekaligus untuk mengalahkan skor yang diperoleh Angga. Tari harus makan bersamanya. Bukan menemani, tapi makan sama-sama!
@@@
Begitu bel istirahat berbunyi, seluruh isi kelas langsung menyerbu Tari. Bak selebriti yang tiba-tiba diterjunkan di tengah massa fanatiknya, teman-temannya mengerumuni dalam bentuk lingkaran rapat dengan Tari sebagai titik pusat. Bak badai suara dalam skala tinggi, semuanya membuka mulut pada saat bersamaan dan mendesak Tari untuk menceritakan isi pembicaraannya dengan Ari tadi pagi.
Tari kebingungan. Soalnya dia nggak tahu boleh cerita atau nggak. Soal dirinya dan Fio dibawa paksa ke SMA Brawijaya, Ari memang sudah tegas-tegas melarangnya untuk cerita. Tapi soal pembicaraan mereka tadi pagi, cowok itu nggak ngomong apa-apa. Jadi mungkin aja dia boleh cerita, tapi bisa jadi juga nggak.
Saat Ari berjalan memasuki kelas Tari, tak seorang pun menyadari kehadiran cowok itu karena perhatian mereka semua sedang tercurah penuh pada Tari. Ari mengahampiri kerumunan itu lalu mengetuk-ngetuk punggung cowok yang berdiri paling belakang dengan satu jari. Cowok itu, Andri, menoleh dan seketika terkejut.
“Kak…” Andri menganggukkan kepala.
Dengan gerakan dagu, Ari menyuruh Andri menepi. Andri langsung memenuhi perintah itu. Dia segera menyingkir dari depan Ari sambil menyikut Ahmed dan Chiko, dua orang yang berdiri di depannya. Kedua cowok itu bereaksi sama persis dengan Andri. Kaget kemudian menyingkir sambil menyikut orang di depannya.
Gerakan menyikut estafet itu akhirnya menciptakan jalan untuk Ari. Sekaligus juga mengirangi tekanan terhadap Tari, karena setiap anak yang telah menyadari kehadiran Ari langsung mengunci mulut rapat-rapat. Suara yang memaksa Tari untuk bercerita juga jadi berkurang satu demi satu, sampai akhirnya hening. Semuanya diam. Dengan tenang Ari menyeruak kerumunan itu.
“Ada apa nih? Pembagian zakat?” tanyanya dengan nada ringan, berlagak nggak tahu. Tidak ada yang berani menjawab. Cowok itu kemudian mengulurkan tangan kirinya pada Tari dengan posisi kelima jarinya terbuka.
“Makan yuk!”
Bukan cuma Tari yang terpana mendengar ajakan Ari itu, juga semua teman sekelasnya. Cewek itu menatap tangan yang terulur di depannya. Ari berdecak tak sabar.
“Cepetan. Gue udah laper nih.”
Dia gerakkan kelima jarinya yang sejak tadi terbuka lebar-lebar, meminta Tari segera menyambut uluran tangannya itu. Tapi karena cewek itu tetap terdiam, akhirnya Ari meraih satu tangan Tari. Dengan paksa ditariknya cewek itu sampai berdiri.
“Elo tuh reaksinya emang suka lambat ya?” katanya sambil menarik Tari ke arah pintu.
Diiringi seluruh temansekelasnya yang menatap ternganga, Tari dibawa Ari ke luar kelas. Cewek itu berjalan dengan wajah sedikit menunduk. Bukan cuma teman-teman sekelasnya yang shock, tapi juga seluruh siswa kelas sepuluh yang menyaksikan adegan itu.
Banyak dari mereka yang bahkan tidak mampu menyembunyikan kekagetan itu dan menatap keduanya dengan mulut ternganga!
Kenapa sih pake gandeng-gandeng segala? Keluh Tari dalam hati. Dia jlan berdua Ari aja udah menciptakan kegemparan, masih tambah digandeng pula. Di depan temen-temen sekelas sih masih nggak apa-apa. Tapi kalo di depan seluruh murid kelas sepuluh begini, Tari nggak bisa membayangkan dia mesti gimana nanti. Pasti bakalan terus diperhatiin dan bisa jadi bakalan ditanya-tanyain.
Kemudian Tari berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ari, tapi malah menyebabkan cowok itu menguatkan cengkeraman jari-jarinya di pergelangan Tari.
“Nggak usah gandengan deh, Kak,” akhirnya Tari menggunakan cara verbal.
“Emang kenapa sih? Santai ajalah.” Ari merespons kegelisahan Tari dengan sikap santai. “Harusnya lo bersyukur. Banyak cewek yang berharap bisa kayak gini. Digandeng sama gue. Dan elo jadi yang pertama.” Cowok itu menoleh. Dikedipkannya satu matanya sambil tersenyum.
Tari jadi makin kesal mendengar kalimta itu. Lo sadar pesona, terserah deh. Tapi nasib gue niiiiihhh! Cewek itu menjerit dalam hati.
“Lagipula kalo nggak gue gandeng, ntar lo pasti bakaalan kabur. Iya, kan?” Ari melirknya sekilas. Tari nggak menjawab, tapi dalam hati membenarkan kalimat itu.
Begitu memasuki kantin, suasana yang sama langsung menyambut kedatangan keduanya. Muka-muak kaget dan terpana seketika memenuhi seluruh ruangan kantin. Banyak dari mereka bahkan sampai berhenti makan saking nggak percayanya dengan pemandangan itu.
“Lo mau makan apa?” Ari menoleh dan menatap Tari.
“Eeeemmm….” Tari memandang deretan penjual makanan di depannya. Bukannya bingung, tapi dia sedang menentukan makanan apa yang bisa dihabiskannya dalam waktu cepat. Jadi dia juga bisa cepat pergi dari sini. Tetapi, nervous dan rasa tak nyaman karena terus menjadi fokus tatapan semua orang membuat Tari akhirnya memutuskan untuk nggak makan. Selain itu, perutnya juga jadi nggak lapar.
“Nggak usah deh, Kak. Saya minum aja.”
“Oh, nggak bisa. Lo harus makan,” tandas Ari.
“Kok?”
“Pokoknya lo harus makan!” Ari nggak ingin menjelaskan. “Gue yang mesenin kalo lo lagi nggak punya pilihan.”
Pilihan cowok itu jatuhpada siomay, soalnya sebenarnya dia juga lagi nggak mood makan dan dilihatnya Tari juga sama. Lagipula, ini cuma usahanya untuk melalmpaui skor yang diperoleh Angga.
Setelah memesan dua porsi siomay dan dua gelas es jeruk, Ari menggandeng Tari ke salah satu bangku panjang dari enam belas bangku yang ada, yang mengapit delapan meja. Diperintahkannya para siswa kelas sepuluh yang sudah lebih dulu menduduki bangku itu untuk bergeser. Perintahnya langsung dipatuhi tanpa protes sedikit pun. Seorang cowok bahkan harus pindah ke bangku lain supaya Ari bisa duduk.
Sementara menunggu pesanan mereka datang, Ari ingat tujuannya kembali mencari Tari, selain untuk melampaui progress yang dicapai Angga. Dikeluarkannya ponselnya dari saku celana.
“Berapa nomor HP lo?” tanyanya dengan suara pelan, karena meskipun sibuk dengan makanan masing-masing, bisa dipastikan perhatian seisi kantin tetap terarah pada mereka berdua.
Dengan perasaan enggan tapi nggak berani nolak, Tari menyebutkan nomor ponselnya. Begitu angka terakhir ter-input, Ari langsung menekan tombol kontak. Seketika I Can, satu lagu lama milik NAS, terdengar dari saku kemeja seragam Tari. Cewek itu mengeluarkan poselnya.
“Itu nomor gue,” kata Ari sambil mengetikkan nama Tari. Kemudian dia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. “Tau nama gue, kan?” tanyanya. Tari mengangguk. “Nomor gue di-save dong. Kok dicuekin?”
Sambil menahan-nahan kesabaran, Tari memencet “save” dan mengetikkan kata “Kak Ari” untuk nomor yang muncul di layar ponselnya itu.
“Cuma sepotong itu ya, yang lo tau?” Ari tertawa mendengus. Tari menatapnya.
“Emang nama lengkap Kakak siapa?”
“Ntar aja gue kasih tau. Sekarang makan dulu.”
Pesanan mereka memang sudah datang. Tari makan dengan lambat. Selain perutnay mendadak kenyang saat Ari muncul kembali di kelasnya tadi lalu menyeretnya ke sini, juga karena Tari bisa merasakan mereka berdua tetap menjadi pusat perhatian seisi kantin. Beberapa pasang mata malah menatap terang-terangan, sedangkan yang lainnya sebentar-sebentar melirik sekilas dan diam-diam.
“Nggak usah nervous gitu. Lo aman sama gue,” bisik Ari santai.
Lo enak ngomong gitu. Gue nih! Gerutu Tari dalam hati. Sudah terbayang di matanya, dirinya bakal dibombardir pertanyaan dari teman-teman sekelasnya. Yang pasti, mereka makin nggak sabar dan makin penasaran karena tadi Tari belum sempat membuka mulut sama sekali. Bahkan bisa jadi anak-anak dari kelas lain bakal ikut-ikutan.
“Lo lahir pagi atau sore?” tanya Ari sambil menyuapkan potongan siomay ke mulut.
“Sore.”
Ari mengangguk-angguk. Nggak terlalu kaget. Dia sudah mengira cewek ini pasti lahir pada sore hari, saat matahari akan tenggelam. Hanya pada saat itulah matahari dam langit yang melingkupinya benar-benar berwarna jingga.
Diliriknya Tari. Cewek itu sedang mendorong piring siomaynya yang masih terisi setengah ke tengah meja, kemudian meraih gelas es jeruknya. Ditunggunya sampai cewek itu menghabiskan separuh minumannya, sekaligus menunggu sampai suasana kantin agak sepi. Lima menit lagi bel berbunyi. Meskipun masih sangat penasaran, mau nggak mau para siswa kelas sepuluh itu harus meninggalkan kantin dan kembali ke kelas masing-masing.
“Lo percaya nggak kalo gue bilang kita berdua kayak benda dan bayangan? Lo bayangan gue dan gue bayangan elo,” ucap Ari pelan, mulai mengatakan bagian prolog untuk menyiapkan cewek di sebelahnya itu.
“Maksud Kakak?” Tari menoleh dan menatap Ari dengan kening berkerut.
“Gue lahirnya juga sore.”
“Oh ya?” Tari mengangkat kedua alisnya. Tapi tidak terlalu terkesan, karena banyak orang yang lahir pada sore hari. Jadi persamaan itu bukan sesuatu yang istimewa.
“Iya,” Ari mengangguk. “Gua juga lahir pas matahari terbenam. Sama kayak elo.” Baru perhatian Tari mulai tercurah.
“Bener-bener pas matahari mau terbenam?” tanyanya memastikan.
“Iya!” Ari menganggu tegas. Ditatapnya cewek itu tepat di manik mata. “Dan elo tau siapa nama lengkap gue?”
Tari menggeleng. Entah kenapa kedua mata itu seperti menguncinya. Membuatnya tidak mampu berpaling ke arah lain. Ari tidak langsung menjawab. Ketika kemudian kedua bibirnya terbuka, suaranya terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.
“Matahari Senja!”
Tari terenyak. Kedua matanya terbelalak menatap Ari. “Nggak mungkin!” desisnya dengan suara tercekat.
Ari hanya balas menatapnya. Tanpa bicara apa-apa. Karena itu memang fakta. Mereka berdua sama-sama lahir pada saat matahari sedang tenggelam. Dan sama-sama menyandang nama benda langit pusat tata surya itu.
Matahari dan Matahari!
bersambung ke bab5.1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar