Jingga dan Senja
karya : Esti Kinasih
Bab 1karya : Esti Kinasih
Tari meluruskan diri dengan barisan di depannya, lalu berdiri dengan tertib. Diperiksanya rok dan baju seragam, kaus kaki, sepatu, juga semua aksesori yang dipakainya. Jam tangan, anting-anting, gelang, cincin, dan ikat rambut yang semua bernuansa oranye. Setelah yakin penampilannya rapi, cewek itu tersenyum puas.
Ini upacaranya yang kedua sebagai anak SMA. Upacara kedua dalam balutan seragam putih abu-abu. Jadi ia masih patuh dan tertib, juga masih bersemangat meskipun matahri kelihatnnya bakalan terik.
Jam tujuh tepat bel berbunyi, tanda upacara akan dimulai.
@@@
Jam tujuh tepat!
Ari melompat turun dari bus yang ditumpanginya.s
Sebenarnya Ari bisa saja menyelinap ke barisan kelasnya sendiri, meskipun kelas-kelas dua belas berbaris tepat di depan barisan para guru.soalnya, dating terlmbat sudah sering dilakukannya baik disengaja ataupun tidak. Tapi pagi ini dia sedang malas mendengarkan ceramah Bu Sam, guru yang palinh terobsesi pada tata tertib, kepatuhan, dan keteraturan.
Apalagi di sekolah itu juga da guru model Bu Ida, yang nggak kawin-kawin juga padahal umurnya –menurut rumor yang beredar – sebentar lagi mau lima puluh. Makanya tu guru sering ngomong bahwa murid-muridnya sudah dianggapnya kayak anak sendiri. Yang artinya, Bu Ida akan ngomel, yang menurut dia, selayaknya ibu kandung mereka di rumah.
Yang terakhir ini yang bikib anak-anak SMA Airlangga,sebis
Menjelang mendekati pagar sekolah, Ari berjalan dengan punggung sedikit membungkuk dan berusaha tidak menimbulkan suara, langsung ke tempat yang dituju. Dengan cermat dipandanginya besi-besi jeruji pagar di depannya dan dengan cepat dia menemukan yang dicari.
Suara gemerisik semak membuat siswi-siswi yang berada di barisan belakang menoleh. Mereka tercengang mendapati seorang cowok sedang menarik salah satu jeruji pagar dengan paksa, kemudian menyelinap masuk ke halaman.
“Liat apa!?” Tanya Ari galak.
Cewek-cewek itu tersentak dan seketika memalingkan kembali muka mereka ke depan. Ari menahan senyum. Setelah mengembalikan jeruji itu ke tempatnya, ia menyembunyikan tasnya di dalam kerimbunan asoka yang tumbuh di sepanjang tepi halaman. Kemudian dengan cepat cowok itu menyelinap ke tengah barisan, berusaha mencapai bagian depan tanpa kentara.
Kebijaksanaan sekolah, cowok-cowok harus berbaris di bagian depan. Cewek-cewek di belakang. Alasannya, cowok tukang bikin rebut. Alasan yang kontan bikin semua siswa cowok protes keras. Cewek juga sama. Coba aja denger kalo mereka lagi nggosip sambil cekikikan. Berisiknya malah lebih parah daripada cowok.
“Mundur dong!” bisik Ari ke cewek terdepan. Tari, cewek yang berambut panjang dan penuh nuansa oranye itu, menoleh kaget dan langsung mundur selangkah. Nada otoritas dalam suara Ari membuatnya patuh tanpa sadar. Cewek-cewek yang berbaris di belakangnya terpaksa mengikuti. Ari segera mengisi tempat kosong itu.
“Thanks.” Sesaat Ari menoleh ke belakang dan tersenyum. Tari membalasnya dengan ragu.
Kayaknya pagi ini matahari sedang bersemangat melaksanakan tugasnya. Upacara baru berjalan kira-kira dua puluh menit, tapi setiap siswa yang sedang berbaris di lapangan mersa sedang berdiri persis di depan kompor.
Ari menoleh ke belakang. Dilihatnya Tari sedang menunduk dalam-dalam, menghindari sengatan matahari sebisanya. Mukanya sudah merah, sementara keringat mengalir deras di kedua pelipisnya. Ari mundur selangkah. Dihalanginya sinar matahari itu dengan tubuhnya. Sekali lagi dia menoleh ke belakang, meyakinkan diri bahwa cewek di belakangnya telah terlindungi sepenuhnya. Terkejut, Tari mengangkat muka. Ditatapnya Ari dengan pandangan bertanya. Cowok itu cuma tersenyum datar dan mengangkat kedua alisnya.
Jam delapan kurang sedikit, upacara bendera selesai. Pada cewek yang selama hampir satu jam ini telah dilindunginya dari panas matahari, Ari menatapnya sesaat kemudian pergi.
Pada tubuh tinggi dibalut kemeja yang kini basah kuyup karena keringat, yang telah melindunginya dari panas matahari selama hampir satu jam tadi, Tari terus menatap kepergiannya dalam ketersimaan.
@@@
Tari memperhatikan salah satu contoh soal di buku yang terbuka di hadapannya dengan serius. Namun, keseriusan itu hanya mampu bertahan beberapa detik. Detik berikutnya pikirannya kembali melayang ke peristiwa tadi pagi.
“Ck!” dia menggeleng keras-keras lalu mencoba kembali memusatkan perhatian pada buku di depannya. Tetapi, lagi-lagi dia hanya mampu bertahan beberapa detik dan peristiwa tadi pagi kembali mengambila alih.
“Aduuuh, kok gue jadi nggak bisa konsen gini sih?” diketuk-ketukny
Sekali lagi dipaksanya otaknya berkonsentrasi pada buku di depannya. Bukan apa-apa. PR matematika yang berjumlah du puluh soal itu belum satu pun dikerjakannya. Sementara kalau mau dikerjakan di sekolah, nyontek punya temen gitu, datangnya kudu subuh-subuh karena pelajaran Pak Yakob, guru matematika, mengatakan bahwa itu PR perkenalan makanya sengaja dia berikan dalam jumlah bejibun.
“Perkenalan apaan? Ini sih PR permusuhan,” dengus Jimmy dengan suara pelan, membuat seisi kelas meringis lebar.
Awalnya berhasil. Hampir lima menit Tari sanggup memusatkan perhatiannya pada deretan angka di depannya tanpa interupsi. Sampai kemudian tanpa dia sadari, satu pikiran menyelinap perlahan dan tercetus keluar dalam bentuk bisikan tanpa sadar.
“Tuh cowok cakep ih. Sayang gue nggak tau nama sama kelasnya.”
Tari langsung tercengang.
“Ya ampuuuuun!” serunya sambil bangkit berdiri. Dengan gemas dibantingnya pensil mekaniknya. “Kok gue jadi mikirin dia mulu sih? Hiiih! Kacau nih!” dengan jengkel ia memukul dahinya dengan telapak tangan.
Kemudian Tari memejamkan mata. Berusaha menenangkan diri dan mengenyahkan bayangan cowok tadi secepat mungkin. Belum lagi usaha itu membuahkan hasil, ponselnya berdering. Ada SMS masuk dari teman sebangkunya, Fio.
Bsk gw mo cr tau sapa tu cowok. Gw pnsrn!
Tak lama masuk lagi satu SMS. Dari Maya, cewek yang duduk di belakang Fio. Isinya hampir sama dengan SMS Fio.
Tar, bsk mo gw slidikin sapa tu cwok. Gw pnsrn! Bnran lo gak knl dy?
Beberapa saat kemudian masuk lagi satu SMS. Sekarang dari Sari.
Gw pnsrn sm tu cwok! Bsok mo gw slidikin. Bnran lo gak knl tar?
Tari jadi bengong. Baru saja akan dibalasnya SMS-SMS itu, masuk lagi satu SMS baru. Yang ini dari Lia.
Dy gbtan lo ya ta? Kok diem2 aj siy? CRITA DWOOOONG!!!
Masuk lagi satu SMS baru. Dia Utari. Yang punya nama panggilan sama dengan dirinya, Tari juga.
Nm kt kan hmpr sm tuh. Mdh2an aja ntr dy slh kira. Gw tu lo, huehehehe…
“Apaan lagi ni anak?” desis Tari saat membaca SMS Utari itu. Masuk lagi satu SMS baru. Dari Devi.
Masa siy lo gak knl dy? Boong lo! Blg aja lo gak mo knlin dy ke kt2.
“Iiiih!” Tari berseru kesal. “Pada nggak percayaan amat sih? Orang gue udah bilang gue nggak kenal tu orang,” Tari mengomel sambil memelototi layar ponselnya.
Tadi pagi begitu upacara selesai, Tari memang langsung dikerumuni cewek-cewek teman sekelasnya. Dengan nada nyaris histeris mereka berebut nanya, “Siapa, Tar!? Siapa, Tar!?” padahal jelas-jelas Tari sedang ternganga-ngang
Makanya Tari jadi kesal dan memutuskan untuk tidak menjawab SMS beruntun dari teman-teman sekelasnya itu. Percuma, bakalan cuma buang-buang pulsa.
Besok paginya, begitu memasuki kelas, Tari langsung di sambut protes.
“Kok SMS kami nggak lo bales sih, Tar?” Tanya Maya, mewakili yang lain.
Tari berjalan menuju bangkunya sambil melirik teman-temannya,
“Ya lagian sih, kemaren kan udah gue bilang berkali-kali, gue nggak kenal tu cowok. Eh, ditanyain lagi.” Tari memasukkan tasnya ke laci lalu sepasang matanya mencari-cari Devi. Ketika dia temukan temannya itu, diangkatnya alis tinggi-tinggi. “Asli, gue ggak kenal siapa tu cowok. Bukannya nggak mau ngenalin ke elo.”
Devi meringis.
“Iya, gue tau, sori. Abis gue penasaran banget.”
“Sama. Gue juga penasaran.”
“Kalo gitu, ayo kita cari tau!” seru Devi dan langsung mendapatkan sambutan sangat antusias dari teman-temannya.
Sementara posisi paling nggak pewe adalah kelas du belas. Berhadapan dengan barisan para guru! Jadi jangankan terlambat dating, nyengir aja keliatan.
Sejak hari itu, setiap pagi sebelum pelajaran jam pertama dimulai dan setiap jam istirahat setelah kembali dari kantin, Tari dan cewek-cewek teman sekelasnya berdiri di sepanjang tepi koridor. Tubuh mereka menempel erat di tembok pagar pembatas dengan kepala terjulur panjang-panjang
Mereka berusaha menemukan cowok yang menyelinap masuk barisan saat upacara bendera waktu itu. Tapi sampai hampir seminggu mereka melakukan pencarian, sampai leher jadi sakit gara-gara tiap hari dijulurkan sepanjang mungkin, cowok itu tidak juga ditemukan.
Dengan lesu gerombolan pengintai gagal itu melangkah menuju bangku panjang di luar kelas mereka dan menjatuhkan diri di sana. Tidak berapa lama Nyoman muncul di ujung koridor dan langsung menghampiri teman-temannya dengan langkah tergopoh.
“Gue udah tau siapa tu cowok!” katanya dengan ekspresi muka tegang.
“Siapa!? Siapa!?” semuanya langsung menegakkan badan dan bersery bersamaan.
“Lo semua pasti nggak bakalan nyangka deh. Gue aja kaget banget begitu tau siapa tu cowok!”
“Emang tu cowok siapa?” lagi-lagi kalimat Nyoman membuat semua temannya melontarkan pertanyaan bersamaan.
“Wah, pokoknya elo semua nggak bakalan nyangka deh. Untung aja selama ini kita nyari taunya Cuma dengan cara ngelongok ke kelas-kelas sebelas di lantai bawah. Nggak pake nanya-nanya untuk cari informasi. Kalo sampe kayak gitu, trust u cowok sampe tau, abis deh kita.” Nyoman menjelaskan panjang-lebar tanpa menjawab pertanyaan teman-temannya.
“Jadi dia itu siapa Mamaaan?” Tanya Fio kesal. Nyoman langsung cemberut. Tu cewek emang sering diledek teman-temannya dengan panggilan “Maman”.
“Ya udah deh. Nggak gue kasih tau.” Nyoman langsung ngambek.
“Ya jangan dooooong!” semuanya berseru bersamaan.
“Elo sih, Fi,” Tari menyikut teman semejanya itu. “Minta map gih.”
“Taelah, Man. Gitu aja marah. Map deh. Map ya, Man? Man-nya Nyoman nih, bukan Maman. Alo jadi rancu bukan salah gue, kan?”
Nyoman melirik Fio, masih dengan tampang kesal. Tapi sesaat kemudian ekspresinya kembali normal.
“Nih, dengerin lo semua pada ya? Pasang kuping.” Nyoman memandang teman-temannya lalu terdiam. Ditariknya napas panjang-panjang
“HAAA!!!?” lagi-lagi semuanya berseru bersamaan. Ekspresi-ekspre
Ari. Nama ngetop di SMA Airlangga. Biang onar sekolah. Salah satu panglima perang saat tawuran, yang berani memimpin teman-temannya sampai ke jalan raya, bahkan menyerang sekolah yang dianggap cari gara-gara.
Siswa yang paling sering menyebabkan para guru terserang sakit kepala, migraine, atau darah tinggi. Juga sering membuat gruu yang sedang menjalankan ibadah puasa Senin-Kamis atau puasa-puasa yang lain, buka jam 12 siang, habis zuhur, gara-gara baru saja memarahi Ari sampai tenggorokan kering kerontang. Bukan hausnya yang jadi masalah, tapi tampang nggak peduli Ari itu yang membuat guru yang bersangkutan jadi ingin melanjutkan marah-marahnya.
Setahun lalu, beberapa guru yang relatif masih muda dan belum punya pengalaman, guru-guru cewek pastinya, malah dibikin nangis sama Ari!
Ari juga membuat MOS jadi neraka untuk siswa-siswa baru, nggak cewek nggak cowok, meskipun MOS itu dimana-mana emang neraka. Tapi Ari itu beda. Tu cowok terkenal nggak jelas. Tidak mengerjakan apa-apa yang dia perintahkan, belum tentu akan mendapatkan hukuman. Sebaliknya, mengerjakan semua yang diperintahkan, dengan patuh dan nyaris tanpa kesalahan, malah bisa membuat Ari ngamuk dan langsung menyiapkan sederet hukuman.
Tampang cantik bisa bikin Ari jadi galak. Tapi cewek yang tampangnya pas-pasan, kalo nggak tega mau bilang jelek, malah pernah bikin tu cowok jadi baiiik banget.
Kathy, cewek paling cantik di kelas sebelas, dulu waktu MOS dibantai sama Ari. Sampai sekarang, katanya, Ari males banget kalo udah ngeliat dia. Padahal cowok-cowok lain justru bersikap sebaliknya. Bingung, kan?
Setelah MOS selesai, dari info yang nggak sengaja didapat dari sana-sini, Tari dan teman-teman sekelasnya baru tahu bawa angkatan mereka beruntung banget. Karena pada saat MOS Ari masih ada di Lombok, traveling bersama teman-temannya.
“Tapi waktu itu dia baik banget kok. Nggak kayak yang diceritain. Lo semua juga liat, kan?” pembelaan Tari memecah keheningan.
“Ya iyalah. Waktu itu kan lagi upacara, bukan lagi MOS,” kata Devi.
Kembali semuanya membisu. Suasana di antara mereka kembali menjadi hening. Nyoman menghadapkan diri kearah teman-temannya,
“Teman-teman, mulai detik ini marilah kita bersama-sama melupakan perasaan cinta ini. Demi kebaikan diri kita sendiri.”
Kalimatnya membuat teman-temannya jadi meringis. Semuanya lalu menganggukan kepala hampir bersamaan, sambil ketawa-ketawa. Antara geli dan agak-agak nggak ikhlas. Kemudian mereka berjalan masuk kelas karena bel sudah berbunyi.
Tari masih berdiri di tempatnya. Masih nggak percaya. Fio merangkul bahu Tari lalu membawa teman semejanya itu memasuki kelas.
“Bener tuh Nyoman bilang. Lupain aja. Naksir cowok kayak gitu cuma cari penyakit, lagi.”
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar