Jingga
dan Senja
karya : Esti Kinasih
Bab 6 (2)karya : Esti Kinasih
Kemunculan Ari dan kondisinya tak pelak membangkitkan keingintahuan yang tak terbendung dari para juniornya.
Di belakang Oji, dalam jarak yang terjaga, dengan cepat terbentuk barisan rapat siswa-siswa kelas sepuluh dan sebagian kelas sebelas. Perhatian Oji sendiri benar-benar terfokus pada Ari, hingga tidak menyadari rombongan pengikut yang terbentuk di belakangnya itu.
Hanya Oji yang mengikuti langkah Ari sampai masuk ke ruangan kantin, lalu berdiri tidak jauh di belakang sang pentolan sekolah itu. Rombongan pengikutnya memilih tempat yang aman. Mereka berdiri berdesakan di depan deretan jendela kantin. Menatap ke dalam ruangan dengan konsentrasi penuh.
Ari sedang menatap Tari lurus-lurus, sebelum kemudian berpindah ke dua orang di kiri-kanan Tari.
“Lo berdua tolong pergi.”
Nyoman bingung, antara pergi atau bertahan. Sementara Fio memilih tidak meninggalkan Tari. Saat itulah ponselnya bergetar dan mengeluarkan ringtone tanda panggilan masuk.
Saat Fio mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja, lalu menatapnya dengan kening berkerut, Ari sudah langsung bisa menduga.
“Sini.” Cowok itu mengulurkan tangan kirinya lalu menggerakkan jari telunjuknya.
“Hah?” Fio menatapnya tak mengerti.
“Sini HP lo,” perintah Ari. Kali ini dengan intonasi bernada perintah yang tidak bisa dibantah. Fio terpaksa menyerahkan ponselnya yang masih terus berdering. Sesaat Ari menatap layarnya lalu mendekatkan ponsel itu ke telinga.
“Ya?”
Satu patah kata. Sudah cukup membuat Bram tersentak dan seketika menghentikan motornya. Cowok itu tetap menempelkan ponselnya di telinga, tapi tidak mengeluarkan suara. Dia masih belum yakin bahwa yang didengarnya barusan memang suara Ari.
Keheningan di ujung sana membuat Ari tersenyum tipis. Perlahan kedua bola mata hitanmya bergerak ke arah Tari. Kemudian didekatkannya ponsel Fio ke bibir.
“Kasih tau Angga…,” bisiknya. Jenis bisikan provokatif, karena itu sengaja dia biarkan beberapa orang di sekitarnya bisa mendengarnya dengan jelas, “Tari ada sama gue!”
Ari mengulurkan ponsel itu kembali ke sang pemilik. Saat itulah, saat Fio mengulurkan tangan kanannya untuk menerima ponselnya, Ari menangkap pergelangan tangan Fio dan menjauhkan cewek itu dari Tari dengan paksa.
Ari melakukannya dengan sangat cepat. Ponsel Fio yang tergenggam di tangan kiri segera berpindah ke tangan kanan. Tangn kirinya yang sekarang bebas langsung menatap dan mencekal
pergelangan tangan kanan Fio yang diulurkan pemiliknya tanpa sedikit pun kecurigaan. Kemudian dipaksanya Fio memutari meja, menjauh dari target utamanya.
Begitu meja – benda yang menjadi jarak antara dirinya dan Fio tidak ada lagi – Ari menarik cewek itu ke arahnya. Langsung dimasukannya ponsel itu ke saku kemeja Fio, kemudian didorongnya cewek itu ke arah Oji.
“Suruh dia keluar!”
Oji buru-buru menangkap tubuh Fio yang limbung.
“Udah, lo pergi. Biar nggak tambah kacau,” bisik Oji pada Fio.
Fio melangkah keluar. Kedua matanya yang sarat kecemasan menatap Tari dengan permintaan maaf.
Begitu Fio tersingkirkan dan kedua mata Ari kini terarah lurus padanya, Nyoman tidak perlu merasa harus berpikir lebih dari sekali untuk juga memilih hengkang dari sisi Tari.
“Sori banget, Tar,” bisiknya. Sama seperti Fio, seat kedua matanya menatap dengan permohonan maaf. Kemudian Nyoman melangkah keluar dan berdiri di sebelah Fio, di dekat pintu. Meskipun tak bisa membantu, mereka takkan meninggalkan Tari.
Melihat sikap kasar Ari terhadap Fio, beberapa mulut langsung mengeluarkan komentar dalam bentuk gumaman. Seketika Oji melayangkan pandangan tajam ke arah para penonton itu. Dengung gumaman itu mereda lalu hilang dengan cepat.
“Suasana lagi panas begini, malah pada komentar, lagi!” desis Oji jengkel. Kemudian perhatiannya kembali ke dua orang yang sedang berdiri berhadapan, terpisah jarak oleh sebuah meja panjang itu.
Ari sedang menatap Tari dengan kedua alis terangkat tinggi dan kedua tangan terlipat di depan dada.
“Tadi itu murni sepihak cuma dari Angga, atau lo juga terlibat?”
Sebenarnya murni sepihak. Tari sama sekali tidak tahu bahwa Angga akan muncul dan melakukan tindakan itu, menurunkannya dari boncengan motor Ari.
Dengan cemas Oji mengirimkan sinyal agar Tari jangan melawan. Tapi Tari sama sekali tidak mengacuhkan isyarat itu. Dia sudah muak diperlakukan seenaknya oleh preman sekolah ini.
“Saya terlibat!”
Jawaban pendek, tapi mampu membuat keuda mata Ari seketika melebar.
“Lo mau gue ngomong terang-terangan
Bagi Ari, ini memang sama sekali bukan soal hati. Jauh lebih penting daripada itu. Tapi jika demi legitimasi harus dibuatnya pengakuan palsu, tidak masalah. Akan dilakukannya itu!
“Kakak juga mau saya tolak terang-terangan
Oji, Fio, dan Nyoman sontak ternganga. Juga semua penonton yang berjubel di luar. Meskipun mereka tidak tahu topic pembicaraan antara Ari dan Tari, aura ketegangan yang sangat terasa sudah cukup membuat mereka bisa menduga, masalahnya pasti gawat.
Tapi yang paling kaget jelas Ari. Kedua matanya sampai menyipit menatap Tari.
“Sekarang lo makin berani ngelawan gue ya!” desisnya.
Tari tidak menjawab. Kedua matanya tetap menentang Ari. Sendirian, terdesak dan tak terlindung, memang sering kali membuat seseorang akhirnya menemukan kekuatannya sendiri. Lagipula sudah sampai begini, dirinya tidak bisa mundur lagi.
“Okeee…” Ari mengangguk-angg
“Begini, Bos…,” Oji berusah membujuk. Tapi kalimatnya tak sempat selesai, karena pertanyaan Ari itu ternyata pertanyaan formalitas. Detik berikutnya, cowok itu balik badan dengan gerakan tiba-tiba dan menyingkirkan bangku panjang di depannya, lalu menggeser meja yang menjadi penghalang dirinya dengan Tari. Tari menjerit dan seketika berbalik ke meja panjang berikutnya.
“Ngapain jug ague takut? Emangnya lo kira elo tuh siapa!? Lo cuma cowok tukang bikin onar, tau! Dikira keren, apa!?” serunya. Seruan yang jelas berbeda dengan kenyataan. Ketakutan Tari makin besar, memicu kekuatannya untuk makin melawan. Hingga tanpa sadar cewek itu tidak lagi menggunakan sebutan “kakak” dan “saya”, seperti yang selama ini selalu digunakannya saat berhadapan dengan Ari.
“Aduh!” desis Oji, serentak memegangi kepalanya dengan kedua tepak tangan.
“Kalo gitu, lo lawan gue!” Ari mengukirkan senyum tantangan. “Tapi inget ya, kalo lo kalah, lo jadi cewek gue. Suruh tu cowok mundur, daripada gue yang maksa dia mundur.” Senyum tadi kemudian berubah menjadi seringai. “Deal? Lo emang bener-bener cewek yang mengasyikkan!”
Tari mengatupkan kedua rahangnya kuat-kuat. Meskipun takut, kemarahnnya jadi makin membuncah mndengar kalimat terakhir Ari yang baginya sudah melecehkan itu. Ditatapnya cowok itu dengan sorot mata yang berubah dingin.
“Gue pilih Angga!!!”
Pengakuan Tari itu seketika menciptakan hening yang pekat. Kesunyian yang benar-benar absolute. Semua multu sontak ternganga. Semua mata terbelalak.
Dan kalimat terakhir Tari itu akhirnya meletupkan magma dari kawah vulakniknya.
“SIAPA YANG NYURUH LO MILIH!!!!?”
Ari menggebrak meja di dekatnya dengan seluruh kekuatan. Kalau tadi hanya siswa-siswa yang berada satu meja dengan Tari yang bangkit berdiri dan pergi sambil membawa makanan masing-masing, kali ini semua siswa yang berada di dalam kantin bangkit dan bergegas meninggalkan meja masing-masing. Kabur ke luar ruangan. Sebagian dengan membawa serta piring dan gelas mereka, sebagian meninggalkannya
“Lo cuma boleh sama gue! Dengar nggak lo!?” bentak Ari dengan suara menggelegar. Kedua matanya menatap Tari dengan kilatan nyalang.
Tari pucat pasi. Sesaat dia hanya bisa berdiri mematung, terhipnotis menyaksikan kemurkaan Ari yang benar-benar di luar dugaannya itu.
“Denger, nggak!?” bentak Ari lagi.
Tari tetap bungkam. Ari menggeram. Kedua tangannya menyambar tepi meja di dekatnya lalu membantingnya sampai terguling. Tak ayal beberapa piring dan gelas yang berada di atasnya terjun bebas dan hancur berkeping. Lantai kini bertabur pecahan beling dan potongan makanan.
Tari tersentak, tapi tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Meja berikutnya dengan dua buah bangku panjang yang mengapitnya, kini jadi satu-satunya penghalang antara dirinya dan Ari. Di luar para penonton jadi menahan napas ketika situasi di dalam jadi semakin panas.
Sementara itu daripada ikut campur, para pedagang di kantin lebih memilih mengamankan barang-barang mereka yang kira-kira berada dalam radius kemarahan Ari. Untungnya, karena semua meja dipakai bersama, para pedagang itu lebih memilih meletakkan semua perlengkapan seperti botol saus, kecap, sambal, dan cuka di gerobak masing-masing, sehingga peristiwa merugikan sekaligus membahayakan seperti barusan bisa diminimalisasi.
“Denger!?” kembali Ari bertanya. Volume suaranya menurun, tapi intonasinya justru makin menajam. Tari tetap bungkam. Kebungkaman Tari itu membuat kemarahan Ari semakin menjadi. Karena dia bisa melihat, meskipun dicengkeram ketakutan, cewek itu melawannya habis-habisan.
“Lo bener-bener bikin gue marah!” geramnya sambil melompati meja. Tari menjerrit dan seketika menyusupkan diri ke kolong meja, berusaha mencapai pintu. Jalan pikirannya jelas terbaca.
“Oji, tutup pintunya!” seru Ari. Oji langsung melaksanakan perintah itu. Bukan karena taat, tapi murni karena refleks. Serentak, Fio dan Nyoman menggeser tubuh menjauhi pintu. Kini keduanya juga ikut terkurung di dalam ruangan kantin, dengan napas tertahan menyaksikan perjuangan Tari tanpa sanggup memberikan pertolongan. Posisi Fio dan Nyoman, juga Oji, kemudian ikut berpindah-pinda
Usaha Ari untuk mendekati Tari dan usaha Tari untuk menjauhkan diri tak ayal menyebabkan ruangan kantin di area makan jadi porak poranda. Meja dan bangku berganti-ganti posisi dari tegak jadi berguling kembali. Digeser ke satu sisi lalu dilempar ke sisi lain. Pecahan-pecahan
Semua penonton seperti terhipnotis menyaksikan peristiwa itu. Ari lepas kendali. Kemarahannya tak bisa dimengerti. Kekalapannya tak terpahami.
Tak seorang pun tahu, secara emosi Ari memang tidak bisa berpisah dengan dua kata itu. Dua kata yang mengikatnya sampai mati. Bahkan di saat dirinya belum mengetahui nama lengkap Tari, nuansa oranyenya telah membuat alam bawah sadarnya menggiringnya pada gadis itu.
Karena penonton yang berjubel di luar sudah semakin banyak, akhirnya Oji memutuskan untuk bertindak. Beberapa wajah kelas dua belas bahkan ditemuinya menyeruak kerumunan yang berjubel di depan deretan jendela itu. Dihampirinya Ari dari arah belakang, dicekalnya kedua lengannya dan diseretnya cowok itu menjauhi Tari.
“Apa sih lo!?” dengan kasar Ari melepaskan cekalan Oji dari kedua lengannya. Disentaknya tubuh kawan karibnya itu sampai terdorong mundur.
“Di luar udah banyak banget orang yang nonton, Ri…,” bisik Oji.
“Ck, peduli amat!” Ari berdecak. “Kalo mereka suka, biar mereka nonton!”
Ari kembali mendekati Tari, yang berdiri gemetar di belakang salah satu meja. Dengan kedua rahang terkatup rapat, Oji juga melakukan hal yang sama. Kembali dihampirinya Ari dari arah belakang dan direngkuhnya dengan kedua lengan. Kali ini Oji mengerahkan seluruh kekuatannya, sehingga ketika Ari memberontak, lingkaran kedua lengan Oji di dada Ari tetap ketat.
Dengan paksa kemudian Oji menjauhkan sang pentolan sekolah itu dari cewek pucat pasi di depannya.
“Lepas, Ji!” sesaat Ari berhenti berontak. Dimintanya Oji untuk melepaskan kedua tangannya dengan nada perintah khas siswa yang paling berkuasa di sekolah, yang selama ini selalu membuat Oji patuh. Tapi kali ini Oji tidak mengindahkan perintah itu.
“Lo udah jadi tontonan banyak orang, Ri. Anak kelas sepuluh pula!” Oji mengulang kalimatnya. Kali ini tepat di satu telinga Ari.
“Kalo mereka mau ngeliat, biar aja. Biar mereka ngeliat. Biar mereka nonton. Peduli apa sih lo!?”
Bersamaan dengan Oji yang dengan paksa menjauhkan Ari dari Tari, Fio dan Nyoman segera berlari mendapati Tari, merengkuhnya dari sisi kiri dan kanan, kemudian langsung menyeretnya ke balik etalase kaca milik Bu Een, pedagang kue.
Sebenarnya tak ada ruang yang cukup luas di balik etalase itu. Tapi karena itu satu-satunya tempat bersembunyi yang terdekat untuk mencapai pintu yang saat itu masih dalam keadaan tertutup, Fio dan Nyoman memaksa menyusupkan diri ke celah kecil sempit itu, dengan Tari di tengah-tengah keduanya. Bu Een terpaksa menggeser tubuh tambunnya ke tepi, setelah itu dia berbuat seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Sementara itu sekuat tenaga Ari berusaha melepaskan rangkulan ketat Oji di tubuhnya. Mulutnya mengeluarkan sumpah serapah dibarengi ancaman untuk sobat karibnya itu.
“Woi, bantuin gue!” Oji berseru pada para penonton yang berjubel di luar. Tapi sebagian besar penonton yang terdiri atas siswa-siswa kelas sepuluh dan sebelas itu hanya menanggapi seruan Oji itu dengan berdiri beku.
Yang sedang emngamuk di depan mereka adalah senior yang paling berkuasa dan ditakuti. Yang meminta tolong untuk bantu mengatasi adalah sahabat karibnya sendiri. Namun, akibat di kemudian harilah yang memenuhi benak setiap siswa cowok yang menyaksikan itu.
Kalau urusan hari ini berbuntut, apakah Kak Oji akan melindungi mereka dari Kak Ari? Kalo nggak… nah, ini baru masalah besar. Karena bisa bikin hari-hari ke depan bakalan runyam dan full of nightmare!
Sadar tidak seorang pun akan bergerak dari tempatnya, sambil terus memegangi Ari dengan satu tangan sekuatnya, Oji cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
“Dho, lo di mana?”
“Kantin. Kenapa?”
“Ke sini cepet!”
“Ada apa sih? Gue lagi makan nih.”
“Ari ngamuk. Gue nggak bisa nge-handle!”
Di seberang, Ridho tersentak. Kontan dia letakkan sendok dan bangkit berdiri. “Lo di mana, Ji?”
“Kantin kelas sepuluh.”
Sesaat kedua alis Ridho menyatu mendengar info itu. Bingung.
“Oke, gue ke sana.”
“Cepetan!”
“Iya.”
Dengan badan yang kalah tinggi, Oji memang tidak mungkin sanggup menangani Ari lebih lama. Ridho datang tak lama kemudian dan langsung merangkul Ari tepat di leher dengan satu tangan.
“Tahan diri lo,” bisiknya.
“Apa sih lo? Lepas!” seketika Ari berontak. Dengan marah dia enyahkan lengan Ridho yang melingkari lehernya. “Nggak usah ikut campur urusan gue! Pergi lo!”
“Elo di depan anak-anak kelas sepuluh, tau!” desis Ridho. Kedua matanya sampai menatap Ari dengan tajam. Tak percaya kawannya itu bisa lepas control hanya karena cewek dan di depan begitu banyak junior pula.
“Ck, aaah!” Ari mengibaskan tangan kanannya tak peduli. “Dia udah ngomong berkali-kali tau nggak?” dengan sepasang mata tertancap pada Ridho ditunjuknya muka Oji dengan ujung jari. “Dan gue udah bilang, gue nggak peduli. Biar aja mereka nonton! Biar mereka ngeliat! Peduli setan!”
Kemudian Ari balik badan dan langsung mencari-cari Tari. Kedua matanya memindai seluruh sudut ruangan dengan gerakan liar.
“Ke mana tu cewek?” tanyanya. Pertanyaan itu dilontarkannya dengan suara tinggi, karena dia tujukan untuk semua kepala yang berada di ruangan kantin, yang menatapnya dengan sorot tegang. Ketika tak seorang pun menjawab, Ari menggerbrak meja di depannya dengan berang. Dia yakin semua orang yang berada di dalam ruangan itu tahu keberadaan Tari tapi tidak ingin mengatakan.
“Ngumpet di belakang gerobak gorengan lo ya, Mas?” tatapan Ari berpindah ke Mas Wiji.
“Ndak ada. Yang ngumpet di sini cuma pisang satu tandan,” jawab Mas Wiji santai, karena memang begitulah kenyataannya.
“Di belakang gerobak lo, Mas Yad?” tuduhan Ari berpindah ke Mas Yadi, penjual mi ayam.
Ridho dan Oji sesaat saling pandang. Ridho mengangguk samar. Tiba-tiba kedua cowok itu bergerak bersamaan. Dengan gerakan cepat dan terlatih, Ridho menggunakan jurus mengunci lawan yang diperolehnya dari ilmu beladiri taekwondo yang dipelajarinya.
Kemudian dengan paksa dan cepat – karena Ari berontak hebat, bukan hanya dengan tenaga dan mulut – Ridho menyeret Ari keluar menuju toilet yang terletak di sebelah kantin. Oji berjalan rapat di belakang keduanya, menutupi apa yang dilakukan Ridho terhadap Ari dari pandangan para junior mereka. Begitu pintu toilet ditutup oleh Oji, Ridho melepaskan cekalannya.
“Bangsat lo! Mau pamer kekuatan? Minggir dari pintu. Gue bilang jangan ikut cam…”
PLAK!
Satu tamparan yang benar-benar keras dilayangkan Ridho di pipi kiri Ari. Ari sampai terdorong mundur beberapa langkah. Dipandangnya Ridho dengan tatap terkesima. Ridho balas menatapnya, dengan tubuh bersandar di pintu toilet dan kedua tangan terlipat di depan dada.
“Kenapa sih lo? Kalo lo emang bener-bener naksir tu cewek, biar gue yang pedekate. Lo tinggak terima beres. Lo sadar nggak, tadi jadi tontonan hampir semua anak kelas sepuluh?”
Ari tersadar. Kemarahnnya mulai menguap. Lunglai disandarkannya tubuhnya ke dinding. Tubuh itu kemudian meluruh di sana. Beberapa saat hanya pemandangan itu yang terjadi. Ambruknya Ari di hadapan dua orang teman terdekatnya. Yang menatapnya tertegun dan nyaris tidak bisa percaya.
“Namanya Matahari Jingga…”
Suara itu nyaris selirih embusan angin. Namun Oji dan Ridho bisa mendengarnya dengan jelas. Bahkan ketika terucap, keduanya bisa merasakan beratnya beban Ari saat mengeluarkan satu kalimat singkat itu dari keterbungkamann
Ridho dan Oji saling tatap. Kedua alis mereka bertaut bersamaan, saling bertanya lewat sorot mata. Jelas-jelas mereka mendengar Ari menyebutkan “Matahari Jingga”, bukan “Jingga Matahari”. Jadi jelas bukan Tari yang dia maksud di sini.
Keduanya menggelengkan kepala bersamaan. Dan bersamaan pula, bola mata keduanya mengarah pada Ari. Sobat mereka itu terduduk di lantai dengan kepala menunduk dalam. Kedua
lututnya yang terlipat menyangga kedua lengannya. Kesepuluh jarinya bertaut erat. Ridho dan Oji menunggu kelanjutan kalimat Ari tadi.
Namun Ari bungkam. Tak mampu lagi meneruskan. Jauh di dalam, seluruh pertahanannya telah runtuh. Karena satu nama itu adalah bagian dari inti seluruh luka dan rasa frustasinya.
Lagi-lagi Ridho dan Oji saling pandang. Ketika hening yang tercipta berlanjut, harapan mereka akan satu penjelasan terhalau.
Matahari Jingga. Satu nama yang tercetus dari bibir Ari beberapa saat lalu. Hanya itu. Satu kalimat pendek yang tidak menjelaskan apa pun. Hanya memperbesar tanya dalam benak Ridho dan Oji.
Namun, keduanya sepakat untuk tidak bertanya. Pengertian bisu yang justru teramat dalam yang telah menyertai mereka sejak bertemu Ari di hari pertama masa SMA. Keduanya teramat sadar, pada Ari ada banyak rahasia. Ada banyak relung gelap yang tidak terbaca. Dan pengertian dalam diam adalah hal terbaik yang bisa mereka berikan.
Satu yang diyakini keduanya dengan pasti: satu nama dari masa lalu itu sepertinya sangat berarti untuk Ari. Berarti, itu alasan utama untuk keanehan sikap Ari hari-hari belakangan ini, dan untuk kalap juga control yang terlepas tadi. Persamaan nama. Bukan untuk Tari secara pribadi.
Ridho melirik jam tangannya. Ada batas keterpurukan bagi setiap orang, yang berbeda satu sama lain. Dan untuk Ari, batas itu tidak bisa terlalu lama. Karena di sini bukan hati yang dipakai untuk barometer, tapi reputasi.
“Udah hampir tiga menit, man,” ucap Ridho dengan suara halus. Ditepuknya bahu Ari pelan.
Dalam tunduknya Ari menghela napas lalu mengembuskannya
Ari bangkit berdiri lalu berjalan menuju wastafel. Dibasuhnya mukanya di sana. Berkali-kali.
Ketika kemudian dia keluar dari toilet, sang pentolan sekolah itu telah menemukan kembali ketenangannya. Ketenangan palsu yang berhasil menipu semua mata, karena kedua karibnya yang mengapit di kiri-kanan mengaburkan “kejatuhan” Ari dengan sangat sempurna.
***
Kejadian kemarin menjadi pembicaraan ramai. Dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Yang pasti di kalangan cewek.
Mungkin untuk semua murid cewek di SMA Airlangga termasuk Veronica, sosok Ari sudah nyaris seperti sosok pangeran dari negeri antah berantah. Riil sekaligus imajiner. Nyata namun juga maya.
Cakep. Cuma cewek yang selearanya abnormal yang nggak setuju kalo Ari cakep. Atau cewek desperate, yang karena yakin nggak mungkin bisa ngedapetin Ari sehingga melakukan penyangkalan. Bilanh tu cowok jelek, demi menjaga hati sendiri. Satu lagi, cewek buta. Kalau masih ada yang tega minta pendapat sama cewek kategori terakhir ini, sumpah tu orang nggak berperikemanusi
Tinggi. Cowok jelek aja kalo tinggi kejelekannya masih akan di ampuni. Misalnya dengan pernyataan “Tu cowok emang tampangnya ancur, tapi tinggi brow.” Apalagi cowok cakep.
Bandel. Berani. Kombinasi yang benar-benar oke buat dua poin Ari sebelumnya.
Tajir. Nggak dimungkiri, poin ini yang makin mengukuhkan Ari di posisi tertinggi dalam jajaran cowok popular di SMA Airlangga. Apalagi dia nggak pelit, suka nraktir-nraktir
Gunung Es. Hati Beku. Salju. Abadi. Poin terakhir ini adalah poin Ari yang paling unik. Bikin satu sekolah jadi terbingung-bing
Dua tahun lebih tercatat sebagai siswa SMA Airlangga, dengan reputasi yang langsung mencolok sesaat setelah kehadirannya, juga dengan deretan poin yang bisa dijadikan faktor pendukung yang sangat potensial untuk jadi Cassanova, jelas jadi sesuatu yang sangat-sangat aneh, janggal, membingungkan, mengeherankan sekaligus mencurigakan, ketika sampai dengan hari ini Ari nggak juga punya pacar. Minimal gebetan deh. Itu juga nggak!
Masalahnya, Ari tuh nggak keliatan kayak cowok yang anticewek. Sebaliknya, dia welcome banget sama cewek. Dia bukan model cowok dingin yang galak sama cewek. Atau cowok dingin yang di sekitarnya adanya cowok melulu. Atau cowok dingin yang merasa dirinya kelewat keren. Jadi kesannya malah songong, belagu.
Di sekitar Ari justru banyak banget cewek. Datang dan pergi. Ya karena sikap Ari yang welcome itu. Mau ngintilin ke mana pun dia pergi, boleeeeh. Asal capek tanggung sendiri. Mau nebeng motornya asal searah, tu cowok juga no problem. Mau ngegandeng tangannya juga nggak
dilarang. Mau meluk atau ngerangkul juga nggak masalah. Nggak bakal ditolak. Tapi apa enaknya sih meluk-meluk cowok kalo tu cowok nggak bales meluk?
Mau ngasih bunga, cokelat, kue, atau makanan-makanan
Jadi percuma aja tu bunga atau makanan sebelumnya dikasih mantra atau jampi-jampi. Nggak bakal tepat sasaran. Masih mending kalau menyimpangnya ke Oji atau Ridho. Tampangnya masih pada lumayan. Nah, kalo peletnya nemplok di Sarip? Yang selain mukanya ancur, kulitnya juga selegam pantat penggorengan. Wah, kudu buru-buru merapal mantra-mantra penangkal biar ilmu peletnya batal.
Cewek menggelayut di pundak atau lengan Ari, itu juga pemandangan yang sudah sangat biasa. Mendadak ada cewek nongol entah dari mana kemudian meluk Ari dari belakang, itu juga adegan yang sudah jamak banget.
Pokonya, sikap Ari tuh bikin cewek-cewek jadi gemes deh. Dekat tapi jauh. Hangat tapi dingin. Baik tapi galak.
Moto Ari memang “Do wathever you like, girls… except kiss!”
Thanks God karena telah menciptakan cewek model Veronica. The desperate Ari’s lover. Yang membuat semua cewek di SMA Airlangga jadi tahu bahwa ternyata ada lima tindakan yang diizinkan Ari mereka lakukan terhadap dirinya. Dan Ari tidak main-main dengan peringatannya itu.
Jadi anaknya ketua yayasan, selain itu sang bokap juga punya kerja sambilan sebagai direktur di sebuah perusahaan, membuat Veronica jadi merasa punya kans paling gede untuk mendapatkan Ari.
Gimana kansnya nggak gede kalo setiap cewek yang ngedeketin Ari langsung dia babat. Tapi, ternyata Vero ada di posisi yang sama seperti semua cewek yang lain. Soalnya uang dan jabatan bokap adalah dua hal yang juga dimiliki Ari.
Vero sama sekali tidak menyadari persamaan kasta itu sampai pada suatu siang dia melakukan tindakan itu. Mencium Ari! Tindakan nekat itu terjadi di area kelas dua belas, setengah jam setelah bel pulang berbunyi. Di depan segelinitr siswa kelas dua belas yang masih tersisa, Vero menghampiri Ari yang saat itu sedang berdiri di koridor bersama Oji dan Ridho, dan langusng memeluknya lalu menciumnya di salah satu pipi.
Semua mata yang melihat tindakan Vero itu kontan terkesima, termasuk Ari. Kemudian di depan segelintir saksi mata itu, Ari dengan geram menyeret Vero ke toilet cowok yang terletak tidak jauh dari situ dna menutup pintunya dengan bantingan.
Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Ari terhadap Vero di dalam ruangan tertutup itu. Yang jelas, ketika beberapa menit kemudian cewek pentolan The Scissors itu keluar, mukanya pucat dan kedua matanya terlihat jelas bekas dibanjiri air.
Keesokan harinya, berita itu menyebar dan jadi pembicaraan hangat siswa-siswa satu sekolah. Terdepaknya Veronica yang notebene cewek paling populer dan paling berkuasa di sekolah jelas makin meletakkan Ari di puncak menara popularitas.
Oleh karena itu, rentetan kejadian belakangan ini yang melibatkan Tari jelas membuat seisi sekolah jadi tercengang. Apalagi Tari juga tidak segan-segan menciptakan keributan yang menyeret para guru, kalau itu dilihatnya sebagai satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari Ari.
Kali ini bukan hanya Oji, Ridho juga ikut membayangi Ari meskipun tidak selalu. Mencegah agar Ari tidak sampai lepas control lagi, juga berharap agar kawan karibnya itu mau menceritakan masalah yang sebenarnya, jadi bisa mereka pikirkan jalan keluarnya.
***
Mendadak satu rencana terbersit di dalam kepala. Ari mematung. Sedetik kemudian cowok itu menutup bukunya.
Di tengah jam pelajaran, di tengah kesibukan Bu Ida memindahkan isi bukunya ke whiteboard, di tengah keseriusan teman-teman sekelasnya menyalin tulisan-tulisan
“Bos…?” bisik Oji dengan tatapan bingung.
Ari sama sekali tidak mengacuhkan keheranan teman semejanya itu. Setelah kelar bere-beres, baru cowok itu menoleh. Diberinya Oji sebentuk senyum. Juga Ridho, yang duduk berjarak dua bangku di sebelah Oji. Pada karibnya yang duduk terpisah jarak itu Ari mengucapkan kata “cabut” tanpa suara.
“Gue duluan,” bisiknya. Sambil menepuk punggung Oji, Ari bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu kelas, dengan ransel di punggung dan jaket di tangan kiri.
“Siang, Bu,” Dia mengucapkan salam ketika melewati Bu Ida, yang masih asyik memenuhi seluruh permukaan whiteboard dengan tulisan-tulisan
“Mau ke mana kamu?” tanyanya dengan suara tajam. Melihat jaket dan tas yang disandang Ari, sepertinya cowok itu bukan mau permisi ke toilet.
“Pulang, Bu,” jawab Ari. Tanpa menoleh dan sambil membuka pintu.
Bu Ida terpengarah. “Kembali ke kursi kamu. Sekarang!” bentaknya.
“Ibu nih. Orang saya bilang saya mau pulang,”jawab Ari tak peduli. Di benar-benar berjalan ke luar kelas. Seketika Bu Ida mengejar keluar.
“ARI! ARIII!!!” Bu Ida berteriak keras di koridor.
Seisi kelas berhenti mencatat untuk menyaksikan kejadian itu. Mereka heran, kenapa sih guru-guru itu nggak pada belajar dari pengalaman ya? Ari tu nggak mempan bentakan atau teriakan. Pak Sitanggung, guru matematika, malah pernah memukulnya dengan penggaris besi. Nggak mempan juga. Tetep aja tu anak jalan ke luar kelas.
Ari berjalan menyusuri koridor dengan langkah cepat. Dituruninya undak-undakan di mulut koridor utama dengan sekali lompat. Sepuluh langkah menjelang sampai di tempat motornya diparkir, dikenakannya jaketnya sambil terus berjalan dengan langkah cepat. Setelah mengenakan helm, cowok itu menstater motornya sambil melihat jam di pergelangan tangan. Masih keburu. Dua petugas sekuriti yang berjaga di gerbang depan tidak berusaha mencegah ketika motor Ari menderu keluar dari area sekolah dan hilang di ujung jalan.
Cowok itu membelah lalu lintas Jakarta dengan kecepatan tinggi. Menuju satu-satunya temapt yang tersisa dalam ketenangan. Tak ingin kehilangan momen yang sebenarnya sudah disaksikannya ratusan kali itu.
Sampai di lokasi, dilihatnya matahari sedang dalam perjalanannya menuju bulatan bumi yang lain. Dalam kemegahannya, warna jingga yang memenuhi seluruh langit barat, dewa utama orang-orang Mesir kuno itu pulang ke peraduan.
Ari menghentikan motornya di depan saung lalu duduk bersila di terasnya. Mematung, kedua matanya menatap ke langit barat. Diikutinya kepergian benda langit dari mana namanya berasal itu. Sampai dia benar-benar pergi. Membuat langit perlahan menghitam.
Kemudian perlahan Ari bangkit berdiri dan berjalan ke tengah saung. Dikeluarkannya sebatang lilin dari tempat persembunyian. Dia memang selalu meninggalkan lilin dan korek api, terkadang sekotak biscuit dan beberapa butir permen, di persilangan rangka kayu penyangga atap. Cowok itu kembali duduk bersila di tempat semula. Dinyalakannya lilin yang baru saja diambilnya.
Dalam remang cahaya lilin, dia teringat kembali rencana yang membuatnya berlari ke tempat ini. Rencana berupa sekejap keinginan, yang muncul dan hilang berulang kali. Sudah sangat lama terbersit keinginan untuk kembali menjadi diri sendiri. Namun selalu gagal karena seketika itu juga ruang kosong dalam dirinya terbuka dan meneriakkan kesunyian.
Di samping itu, image-nya sudah buruk, sejak dirinya masih tercatat sebagai siswa baru. Kalau sekarang diubahnya tingkah lakunya, dipastikan diriya akan dituduh sedang main sandiwara. Dan itu hanya akan semakin menjauhkan gadis yang saat ini sangat ingin diraihnya.
Perlahan Ari memejamkan kedua matanya. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu diembuskannya kuat-kuat.
Namun…
Kalau dia menjadi diri sendiri di tempat lain, barangkali dirinya masih mungkin untuk berharap. Karena kini telah datang seorang yang menyandang nama yang nyaris sama. Gadis itu. Jingga Matahari.
Seandainya yang terjadi pada harapan kali ini sama seperti yang terjadi pada harapan yang dulu-dulu, barangkali saja kehadirannya mampu jadi penyangga di saat dirinya limbung dan terpuruk karenanya nanti.
Ari menelan ludah susah payah. Harapan ini adalah harapannya yang terbesar, tapi akan menjadi yang paling menghancurkan seandainya tidak terjadi. Dia memohon, dengan seluruh darah yang mengalir dalam tubuhnya, dengan seluruh hati dan hidup yang dimilikinya, seseorang yang bernama nyaris sama, yang hilang di masa lalu, akan kembali.
Namun, jika rencana ini pun gagal, dan gadis itu bahkan tak teraih, dipastikan dirinyalah yang akan hancur.
“Apa sih yang gue takutin?” Ari membuka kedua matanya, berbicara pada dirinya sendiri. “Toh gue udah lama ancur.”
Dua kalimat itu, yang dilanjut dengan sesaat perenungan, akhirnya meyakinkan Ari untuk melaksanakan rencananya.
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar