Jingga
dan Senja
karya : Esti Kinasih
Bab 5 (2)karya : Esti Kinasih
Begitu bel istirahat brebunyi, Tari dan Fio langsung bangkit berdiri dan berjalan ke luar kelas, bersamaan dengan seisi kelas yang sudah bersiap melejit ke arah Tari. Apalagi kalau bukan ingin tahu tentang peristiwa jam pertama tadi.
“Eh, mau ke mana? Certain yang tadi pagi dong!” seru beberapa orang bersamaan.
Fio menoleh. “Apaan sih? nggak tau apa, situasinya udah emergency banget?” tanyanya kesal.
Sementara Tari hanya diam. Gawtnya situsati yang dia hadapi membuat pikirannya kalut, hingga tak sempat lagi menanggapi teman-temannya.
“Kalo Kak Ari dateng trus tanya Tari di mana, plis banget, Man, jangan kasih tau ya?”
“Emang lo berdua mau ke mana?” tanya Nyoman.
Fio tak menjawab. Dia langsung balik badan sambil meraih satu tangan Tari. Ditariknya temannya itu pergi dari situ. Keduanya menjauh dengan langkah bergegas.
Nyoman melongokkan kepala. Mengikuti dengan pandangan hingga tahu ke mana kedua temannya itu menghilang. Gudang di ujung koridor. Sebuah ruangan yang nyaris tidak pernah dimasuki orang. Tempat kursi, meja, dan lemari-lemari rusak disimpan. Sama sekali bukan bermaksud untuk berkhianat. Dia justru ingin membantu seandainya nanti situasi berubah semakin gawat.
Begitu pintu gudang ditutup Fio, ketakutan Tari langsung pecah.
“Sekarang giman nih, Fi?”
“Tadi pagi ada apa sih?”
Dengan berat, karena sebenarnya dia malas mengingat lagi peristiwa tadi pagi, Tari terpaksa menceritakannya
“Ck! Angga cari gara-gara aja!” Fio berdecak lalu menghela napas.
“Makanya sekarang gimana?”
“Tadi Kak Ari bilang mau nganter lo pulang, ya?”
“He-eh. Dan gue nggak mau lagi deket-deket dia.”
Keduanya terdiam. Sibuk berpikir. Tiba-tiba ponsel Tari berdering. Sang pemilik jadi terlonjak karena kaget.
“Dari Angga,” desah Tari lega saat menatap layar ponselnya. “Untung deh bukan Kak Ari.”
Angga terkejut mendengar perkembangan terakhir.
“Ntar siang lo gue jemput,” katanya.
“Jangan!” cegah Tari seketika. “Gila lo. Ini aja udah gawat situasinya. Jangan ditambahin lagi dong.”
“Kalo dia mau marah, sama gue. Bukan elo.”
“Ya, tapi jangan dengan cara lo nganter gue pulang dong.”
“Terus, lo lebih milih dianter Ari, gitu?” suara Angga menajam.
“Ya nggak gitu juga. Ini memang masalah lo sama Kak Ari, tapi sekolah kita kan musuh bebuyutan.”
“Itu sih apa boleh buat, Tar. Kami udah sering saling serang tanpa alasan kok.”
“Jangan bikin gue ge-er dong. Gue jadi ngerasa bak Helen dan Troya nih.” Di tengah impitan rasa takut, Tari masih bisa bercanda. Angga tertawa.
“Trus, rencana lo gimana?”
“Ini lagi gue diskusiin sama Fio.”
“Oke deh. Kabarin gue gimana hasilnya ya.”
“Oke.”
Komunikasi ditutup. Tari menarik napas lega, mengira berhasil mengatasi Angga. Padahal Angga sama sekali tidak berniat mundur. Yang dia inginkan sama sekali bukan kemenangan di belakang. Tapi kemenangan di depan. Kemenangan yang menghancurkan lawan. Kemenangan yang bisa membuat dirinya tertawa keras-keras.
Setelah menghabiskan seluruh waktu istirahat di gudang yang kotor dan pengap, Tari dan Fio berhasil mendapatkan satu cara untuk melarikan diri dari Ari sepulang sekolah nanti. Tapi Tari tidak sempat lagi memberitahu Angga karena bel masuk sudah berbunyi.
Keduanya kembali ke kelas dengan cemas. Menjelang mendekati pintu, langkah keduanya melambat. Nyoman, yang tahu kenapa dua temannya itu bersikap waspada, langsung bangkit dari bangkunya yang memang berada di dekat pintu. Tergesa dia menghampiri. Raut mukanya tegang.
“Kak Ari nggak dating. Tapi ada yang lebih gawat nih,Kak Vero tadi dating, bareng gerombolannya. Nyari elo, Tar.”
Tari tersentak.
“Se… serius?” tanyanya tergagap.
“Ngapain sih gue bohong? Emangnya ini lucu apa, buat bahan bercandaan? Lo tanya anak-anak sekelas deh kalo nggak percaya.”
Tari kontan lemas. Pucat pasi. Tidak mengherankan. Siswa cowok yang paling disegani teman seangkatan dan ditakuti para junior adalah Ari. Untuk cewek, posisi itu dipegang oleh Veronica.
Cewek itu anak ketua yayasan. Mungkin karena itu dia jadi merasa berkuasa. Dia punya geng dan namanya membuat para junior langsung jiper : The Scissors!
Geng ini terkenal suka merusak baju atau barang-barang milik para junior yang mereka anggap telah menyaingi penampilan anggota geng mereka. Sering kali dengan menggunakan gunting. Dan sering kali pula kejadian itu berlangsung di depan banyak mata.
“Pak Yakob udah dating. Buruan masuk kelas,” Nyoman memecahkan kebekuan Tari. Antara sadar dan tidak, Tari mengikuti kedua temannya memasuki kelas.
Istirahat kedua, Tari dan Fio memberanikan diri ke kantin karena perut Fio sudah melilit kelaparan. Tari sendiri sudah kehilangan selera makan sama sekali. Dia hanya sanggup menelan dua potong siomay. Itu pun setelah Fio memaksanya. Keduanya duduk meringkuk di balik tumpukan kotak minuman botol Pak Kumis, pedagang minuman di kantin. Menyembunyikan diri seandainya Ari dan Vero mencari.
Mereka tidak tahu bahwa baik Ari maupun Vero tidak akan muncul. Vero merasa akan merendahkan diri dan gengnya kalau mereka datang lagi untuk mencari cewek kelas sepuluh yang sudah menggemparkan kelas dua belas tadi pagi. Yang penting tu cewek tau kalo dia dicari, itu udah cukup.
Sementara itu, karena menganggap mengembalikan Ari ke kelasnya hanya akan melanjutkan huru-hara yang sudah diciptakan anak itu, Pak Rahardi sengaja membuat Ari sibuk dengan memberikan sederet tugas: memfotokopi lembaran soal milik beberapa guru, mencari beberapa buku sebagai bahan rujukan, juga untuk beberapa guru dari mata pelajaran yang berbeda. Ini yang makan waktu lama, karena buku-buku itu adalah buku-buku lama yang tidak lagi diproduksi. Mau tidak mau Ari harus mencarinya di tempat penjualan buku-buku bekas. Terakhir, Pak Rahardi memrintahkannya
Ari pergi juga meskipun dalam hati dongkol. Pak Rahardi satu-satunya orang di sekolah yang tidak ingin dilawannya. Tapi, karena Ari juga mengerti mesin, dia mulai curiga ada permainan. Soalnya sudah hampir satu jam berlalu dan yang dikerjakan montir itu cuma keluar-masuk kolong mobil dan buka-tutup kap mesin. Tidak jelas apa sebenarnya yang sedang diperbaiki.
“Mas, lo tuh tau mesin nggak sih? Dari tadi nggak kelar-kelar. Atau jangan-jangan Pak Hardi sengaja nyuruh lo nahan gue di sini ya?”
Montir itu terlihat tidak enak, membuat Ari yakin dugaannya tepat.
“Sialan!” maki Ari, lalu langsung balik badan dan dengan langkah cepat berjalan ke arah motornya diparkir.
“Eh, Dik! Dik! Sebentar!” Montir itu meletakkan peralatan yang dipegangnya dan bergegas menyusul.
“Dak-dik-dak-di
Montir itu menatap motor Ari yang melesat pergi sambil geleng-geleng kepala.
“Masih SMA udah kayak gitu. Mau jadi apa itu anak nanti?” dikeluarkannya ponsel dari saku celana. “Gagal, Pak. Anaknya baru saja pergi. Semua bawaannya tadi, buku-buku sama tumpukan kertas, dia tinggal di sini.”
Di seberang, Pak Rahardi menghela napas.
***
Sepuluh menit menjelang bel pulang, Tari dan Fio membereskan buku-buku mereka yang masih berantakan di dalam laci dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Soalnya Pak Isman masih serius menerangkan rumus-rumus yang ditulisnya di whiteboard.
Pak Isman punya kebiasaan langsung pulang kalau gilirannya mengajar terletak pada jam terakhir. Dan beliau selalu membawa mobil. Begitu bel berbunyi, Pak Isman mengakhiri pelajarannya dan seisi kelas langsung sibuk berkemas. Tari buru-buru berdiri dan mendekati guru fisika itu. Fio mengekor di belakangnya.
“Pak…,” panggil Tari dengan suara memelas. “Kami boleh numpang mobil Bapak, nggak? Sampe halte pertama di jalan raya aja, Pak. Nanti kami cari taksi.”
Pak Isman menoleh sekilas dari kesibukannya membereskan buku-buku cetak dan lembar-lembar fotokopian. Beliau tidak bertanya apa-apa.
“Boleh ya, Pak?” Tari mengulangi permintaannya. Dengan suara yang makin memelas karena harapannya mulai dikikis rasa takut.
Pak Isman meluluskan permintaan Tari dengan menyodorkan buku-buku dan tumpukan kertas fotokopiannya. Tari menerima dengan hati yang kontan terasa amat sangat lega. Cewek itu malah hampir saja menangis.
“Makanya, kalau bergaul itu pilih-pilih. Jangan sembarangan,” ucap Pak Isman sambil berjalan keluar kelas.
Di tempat lain, Ari membelah kepadatan lalu lintas Jakarta dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli jika sampai tertilang polisi dia bisa kena masalah. Masalahnya, baru beberapa hari yang lalu dia kena tilang dan STNK-nya masih ditahan.
Lima belas menit lagi bel pulang berbunyi. Telat sedikit saja bisa dipastikan dia akan kehilangan jejak Tari.
Jam dua tepat. Tidak terkejar. Ari segera menepikan motornya. Dikeluarkannya ponsel dari kantong celana dan dikontaknya Ridho.
“Dho, tolong lo tahan Tari. Gue masih di jalan.”
Telepon langsung ditutup. Ridho, kawan karib ari selain Oji, segera melaksanakan perintah itu. Tak sampai lima menit laporannya masuk.
“Dia ikut mobil Pak Isman.”
“Oke. Thanks.”
Ari langsung balik arah. Pak Isman juga guru fisikanya saat kelas sepuluh dulu. Dan ari hafal rute pulang yang selalu diambil guru itu.
Sementara itu, satu orang yang juga punya kepantingan atas Tari, duduk diam di atas motornya sejak setengah jam yang lalu. Helm yang terus menutupi kepala membuatnya tidak dikenali meskipun berada tepat di mulut kandang lawan. Dan begitu ditangkapnya sosok Tari dan Fio di dalam salah satu mobil yang keluar dari gerbang di depannya, Angga langsung menyalakan mesin dan mengikuti di belakang.
Di dalam mobil Pak Isman suasana begitu hening, karena baik Tari maupun Fio sungkan untuk memulai pembicaraan. Tapi, karena mengira telah berhasil melarikan diri dengan sukses, keduanya merasa lega dan tidak peduli dengan keheningan itu dan fakta bahwa Pak Isman masuk dalam jajaran guru-guru killer.
Padahal, kalau mereka mau melirik kaca spion tengah, mereka bisa melihat bukti awal kegagalan usaha pelarian itu. Sebuah motor menguntit mereka sejak keluar dari gerbang sekolah. Sementara berpuluh-puluh kilometer dari situ, sebuah motor lain tengah digas gila-gilaan dalam usaha untuk mengejar.
***
Ari terkejut ketika akhirnya dilihatnya mobil Pak Isman di kejauhan, dan sebuah motor sedang menguntit mobil itu. Dia langsung tahu siapa orang itu.
“Sialan tu orang!” makinya, dan langsung menambah kecepatan.
Menggambarkan dengan jelas kegeraman sang pengemudi, motor itu melesat dengan kelihaian seorangraja jalanan. Sayangnya, lampu pengatur lalu lintas menyala merah di kejauhan, menghentikan usaha keras itu. Beberapa mobil membentuk dua barisan rapat. Sementara di sisi kiri jalan, motor-motor berhenti dengan posisi menyemut, tanpa ada celah yang bisa diterabas. Tidak ada jalan lain selain berhenti total, kaena belum ada motor yang didesain bisa terbang.
“Sialan! Sialan! Sialan!” rentetan makian keluar, diikuti tinju kanan yang dihantamkan sang pemilik kepalan ke kaca pelindung spidometer.
***
Sesampainya di jalan raya, sesuai permintaan, Pak Isman menurunkan Tari dan Fio di halte bus pertama.
“Terima kasih, Pak.” Keduanya menganggukan kepala dan membungkukkan badan sedikit.
“Ya.” Pak Isman mengangguk kecil. “Kalian hati-hati kalau memilih teman bergaul,” pesannya sebelum pergi.
“Emangnya kita kelihatan kayak pengin bergaul sama Kak Ari, ya?” ucap Tari setelah mobil Pak Isman menjauh.
“Udah deh, nggak usah dipikirin. Buruan pulang yuk. Kalo belom sampe rumah, kayaknya gue belom merasa aman.”
Baru saja ucapan Fio selesai, motor Angga berhenti tepat di hadapan. Membuat keduanya terkejut.
“Gue anter lo pulang, Tar…”
“Tadi kan gue udah bilang…”
“Udah, cepetan!” Angga memotong kalimat Tari. “Nggak aman lo ada di pinggir jalan gini.”
Diraihnya satu tangan Tari dan ditariknya cewek itu ke boncengan motornya.
“Lo juga cepetan pulang, Fi. Tapi sori, gue nggak bisa nganter.”
“Iya, nggak pa-pa. Yang penting dia dulu tuh.” Fio menunjuk Tari dengan dagu.
Tari menyingsingkan rok panjangnya kemudian duduk di belakang Angga.
“Udah?” tanya Angga.
Tari mengangguk. “Tapi Fio gimana?” tanyanya bingung.
“Nggak pa-pa. Gue bisa pake taksi,” sahut Fio. “Udah, buruan pergi deh!”
Begitu Angga dan Tari melesat pergi, Fio langsung celingukan ke dua arah, mencari-cari taksi kosong yang lewat. Cewek itu sadar, dia telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam bahaya. Tapi Tari teman semejanya, dan teman pertama yang didapatkannya pada hari pertama MOS, hari yang membuatnya takut dan cemas saat memasuki gerbang SMA Airlangga. Jadi dia nggak bisa nggak peduli. Kalau Tari melarikan diri, otomatis dia juga harus melakukan hal yang sama. Karena dirinyalah orang pertama yang akan dicari lalu diinterogasi.
Sebuah taksi muncul di kejauhan. Tidak pernah berhubungan langsung dengan Ari membuat Fio tidak mengenali sepeda motor yang melaju cepat di depan taksi. Baru setelah motor itu berhenti tepat di hadapannya dan sang pengemudi menaikkan kaca helm, cewek itu membeku.
“Naik!” perintah Ari. Ditunjuknya boncengan motornya dengan dagu. “Tunjukin gue rumah temen semeja lo!”
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar