Jingga
dan Senja
karya : Esti Kinasih
Bab 7 (2)karya : Esti Kinasih
Malamnya, Tari sedang duduk terdiam di depan meja belajarnya – masih memikirkan keanehan peristiwa siang tadi – saat ponselnya berdering. Seketika itu juga muka serius tapi muramnya berganti ceria saat mendapati nama yang muncul di layar. Angga.
“Hai, apa kabar?” sapa Angga begitu Tari mengangkat telepon.
“Baik.”
“Beneran baik?”
“Iya. Emang kenapa?”
“Syukur deh kalo baik. Gue kepikiran elo terus.”
“Emang kenapa?”
“Bego deh pertanyaannya,”
“Oh, itu. Belom sih.”
“Kok belom? Mau?” suara Angga mendadak jadi tajam. Tari tersentak.
“Eh, bukan! Bukan!” ralatnya buru-buru. “Maksudnya beberapa hari iniaman-aman aja. Gue juga nggak ngeliat dia. Gitu lho.”
Terdengar helaan napas berat di seberang, kemudian hening.
“Ga?” panggil Tari hati-hati. “Gue nggak apa-apa kok. Baik-baik aja.”
“Tu baik-baik aja paling juga nggak bakalan lama.”
“Iya sih.”
“Tar, lo jangan terlalu frontal sama Ari, ya?
“Y ague liat-liat lah. Kalo dia kelewatan, ya gue lawan. Enak aja.”
Angga tertawa pelan.
“Janganlah. Sementara tahan diri dulu. Sampe gue dapet cara untuk bisa ngelawan dia lagi.”
“Trus gue suruh diem aja, gitu?”
“Jangan terlalu frontal. Bukan diem aja.”
“Kalo itu sih gue nggak bisa janji. Lo kan tau sendiri dia suka kelewatan.”
“Iya, gue tau,” suara Angga terdengar berat. Sesaat dia terdiam. Ketika kemudian kembali bicara, Tari menangkap sesal yang jelas dalam suaranya.
“Tar, gue minta maaf banget. Nggak bisa ngelindungin elo dari Ari. Dan terpaksa ngebiarin elo kayak gini, ngelawan dia sendirian.”
Tari terdiam. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Kalimat Angga itu membuatnya sedih. Angga menarik napas lalu mengembuskannya
“Kalo inget, gue jadi benci diri sendiri.”
“Nggak separah itu kok, Ga. Siapa pun yang ada di posisi lo pasti akan ngambil cara yang sama.”
“Apa pun alasannya, tetep aja judulnya gue ternyata nggak bisa, nggak mampu…”
Dua-duanya kemudian terdiam. Sampai Angga kembali buka suara, Tari tidak berhasil menemukan kalimat yang tepat untuk menghibur cowok itu, untuk mengatakan bahwa hal itu bukan apa-apa.
“Gita kirim salam buat elo. Dia juga minta maaf.”
“Oh…”
“Udah ketemu?”
“Nggak. Gue sengaja nggak pingin tau yang mana orangnya. Biar dia nggak tambah kenapa-napa.”
Angga menarik napas. “Tambah feeling guilty gue dengernya,” desahnya. “Baik-baik lo ya. Inget, kalo bisa lo hindarin konfrontasi sama Ari. Ya?”
“Iya.”
“Gue kuatir banget sama elo.”
“Iya,” kali ini kata itu keluar dari bibir Tari dengan suara lirih. Pembicaraan ini membuatnya nelangsa.
“Kalo ada apa-apa, cepet kasih kabar ke gue. Oke?”
“He-eh.”
“Ya udah. Met tidur. Jangan lupa jendela ditutup trus dikunci.”
“Iya.” Tari mengangguk lemah.
Angga menutup telepon. Tapi ternyata Tari kemudian mendapati pembicaraan itu membebani pikirannya. Yang mulanya hanya rasa nelangsa berubah jadi kemarahan pada keesokan paginya.
***
Keberadaan Anggita dan mundurnya Angga membuat Ari memutuskan untuk melupakan rencana awalnya. Tapi, niat itu seketika dia urungkan ketika pada suatu pagi, saat ruang kelasnya sudah setengah lebih terisi, Tari menerjang masuk dengan kemarahan yang memuncak yang membuatnya tidak lagi sadar, atau bisa jadi tidak peduli, di mana dia berada. Are yang didatangi Tari adalah area yang paling dihindari murid-murid kelas sepuluh.
Cewek itu langsung berjalan kea rah Ari dan berdiri tepat di depannya.
“Elo banci! Beraninya ngancem. Beraninya bawa-bawa cewek. Lo nggak berani kan, ngadepin Angga satu lawan satu? Dasar Banci!”
Setelah berondongan caci maki itu, Tari langsung balik badan dan berlari keluar, meninggalkan Ari dan semua orang yang berada di ruang kelas itu dalam ketersimaan hebat yang membuat mulut mereka menganga lebar.
“Gila tu cewek. Nyalinya oke juga,” suara Eki memecah keheningan. “Yang dia katain banci siapa sih? Elo, Ri?”
Ari menoleh lalu menyeringai. “Yoi, gue.”
“Wah!” Eki menggebrak meja. “Nggak bisa dibiarkan. Buktikan, man. Buktikam sama dia kalo lo bukan banci.”
Ari menyeringai lagi lalu kembali menghadapkan tubuhnya ke depan. Kemunculan Tari dan berondongan caci makinya lalu menjadi bahan pembicaraan seru di kelas.
Tiba-tiba Oji muncul di ambang pintu dan langsung berseru keras, “Ri, si Tari dicegat Vero tuh!”
Ari tersentak. Seketika dia melompat berdiri dan bergegas keluar. Seisi kelas langsung mengekor di belakangnya.
Beberapa saat sebelumnya Tari keluar dari kelas Ari dengan kondisi sangat marah. Cewek itu menyusuri koridor dengan langkah cepat, masih tidak menyadari bahwa dia sudah memasuki area yang paling ditakuti murid-murid kelas sepuluh. Sampai beberapa meter menjelang tangga turun, langkahnya terhenti. Enam cewek berdiri berjajar, menutupi lebar koridor dari ujung ke ujung. Tak mungkin dilalui tanpa menabrak, minimal salah satunya.
Vero dan kelima cewek anggota gengnya!
Seketika Tari memucat. Untuk pertama kalinya dia baru menyadari telah nekat memasuki area yang paling terlarang untuk murid-murid kelas sepuluh.
“Ck, ck, ck!” Vero melangkah mendekat sambil berdecak dan menggeleng-gele
“Ma… maaf, Kak,” ucap Tari terbata. Dia melangkah mundur, tapi hanya bisa satu langkah saja karena kalmia teman Vero langsung berdiri mengelilinginya
Perhatian Vero lagsung tertuju pada pin matahari yang tersemat di dada kiri kemeja seragam Tari. Warnanya yang oraye menyala semakin menyulut kemarahannya yang bersumber dari rasa iri dan tidak bisa terima. Karena… akhirnya ada cewek yang diaksir Ari!
Kalo yang ditaksir Ari si Zhi, cewek paling cantik di kelas sepuluh, okelaaah. Atau Kathy, cewek paling cantik di kelas sebelas, yang waktu baru-baru muncul langsung bikin gempar para cowok, itu masih pantes. Tapi ini, si Tari gitu looh. She’s nobody. Yang kenal dia paling-paling teman-teman sekelasnya doang. Dan wali kelasnya. Dan guru-guru, itu juga kalo lagi ngabsen. Baru deh setelah diuber-uber Ari, ni cewek jadi ngetop abis. Siapa juga yang nggak jadi singit?
Udah gitu, ternyata alas an utama Ari suka sama ni cewek sepele banget. Cuma karena namanya sama. Matahari juga. That’s all! Nothing else!
Nyebelin banget, kan? Soalnya itu nggak fair. Sama sekali nggak adil. Karena perbandingan emak-emak nyentrik yang bakalan ngasih nama-nama aneh buat anaknya, disbanding emak-emak konvesional yang ngasih anaknya nama-nama lumrah, presentasenya bisa jadi satu banding sepuluh ribu. Itu kan curang banget!
“Maksud lo apa pake-pake begini? Ha!? Biar semua orang tau kalo nama lo sama nama Ari sama, gitu? Iya!?”
Tari tidak menjawab. Reputasi Vero membuatnya tahu dengan baik, diam dan tidak melawan adalah sikap yang paling tepat kalau ingin hari-hari ke depan aman.
“Kok diem!?” bentak Vero. Diraihnya sejumput rambut Tari dan disentaknya rambut itu ke belakang, memaksa Tari mendongak. “Bisu? Atau budek?”
Tari tetap diam. Ia menggigiti bibir, karena kelima jari Vero yang mencengkeram rambutnya membuat kulit kepalanya serasa mau lepas.
“Dan elo tau nggak sih, kalo init uh daerah kelas dua belas? Ha!?lo nggak bisa main nginjek ni tempat seenak jidat lo. Jangan karena lo diuer-uber Ari trus lo pikir lo bisa ganti nguber-nguber dia sampe ke sini! Emangnya ni sekolahan isinya Cuma kalian berdua? Yang lainnya patung, gitu!?
Tari tetap tak bersuara. Vero merendakan mukanya.
“Lo bikin mat ague sakit, tau!”
Kelima jarinya yang mencengkeram rambut Tari mengetat semakin kuat, membuat Tari menggigit bibirnya semakin kuat lagi. Pemandangan itulah yang tertangkap kedua mata Ari begitu dia keluar dari pintu kelas.
“VERO, LEPAS!!!” bentaknya seketika.
Gelegar suara Ari membuat tindakan Vero yang tadinya hanya diketahui mereka-mereka yang berada di sekitar lokasi kejadian sontak menarik perhatian siapa pun yang mendengar bentakan keras Ari barusan. Sosok-sosok berhamburan keluar dari pintu-pintu kelas. Sebagian hanya menatap Ari dengan sorot ingin tahu, sebagian lagi mengekor di belakangnya. Kelima anggota geng Vero langsung menjauh dari Tari.
“Lepas, Ve. Ari lagi ke sini!” salah seorang berseru pelan dengan nada mendesak. Tapi Vero, yang begitu focus dengan objek kemarahannya, tidak mendengar seruan itu.
“Vero! Lepas, bego! Cepetan!” ganti temannya yang lain memberikan peringatan, juga dengan nada mendesak.
“Gue bilang tarik tu cewek masuk toilet, biar aman. Vero keburu emosi sih,” anggota gengnya yang lain bergumam pelan. Tapi sedetik kemudian dia menjerit tertahan penuh kepanikan, karena ketika menoleh untuk mengetahui keberadaan Ari, dilihatnya cowok itu tengah menyeruak kerumunan dengan paksa. Tidak sampai lima belas meter di belakang mereka!
“Vero, lepasin tu cewek! Buruan! Ari udah deket tuuuh!”
Vero tetap tidak mengacuhkan peringatan teman-temannya.
“Apaan sih!?”dengan kasar Vero menepis tangan kedua temannya.
“Ari ke sini, tolol!”
Vero menoleh kea rah yang ditunjuk salah satu temannya dengan dagu. Tapi dia tetap tidak peduli.
“Kalo kalian takut, ya udah. Kabur aja sana!”
Dua cewek itu jadi kesal dan akhirnya benar-benar meninggalkan Vero lalu bergabung dengan ketiga teman mereka yang masih berdiri di tempat semul, yang menyambut tatapan keduanya dengan pasrah.
Perhatian Vero kembali ke Tari, yang sedang menekan-nekan kepalanya dengan satu tangan, berusaha meredam nyeri akibat tindakan Vero tadi. Tiba-tiba Vero mengulurkan tangan kanannya dan merenggut pin matahari Tari dengan paksa. Sewaktu merenggut pin, Vero sengaja menarik kemeja seragam Tari kuat-kuat. Tak ayal kemeja itu tercabik, robek dalam helaian lebar, dan memperlihatkan apa yang tersembunyi di baliknya. Tari terkesiap. Buru-buru dia tegakkan helai kain yang terkulai itu. Tapi sedetik yang tersembunyi itu terpampang, kontan membuat mulut para cowok mengeluarkan siulan keras.
“Gila, seksi abis, maaan!” seseorang bahkan sampai menyerukan komentar.
Ari yang sampai tak lama kemudian terperangah. Kedua matanya sontak berkilat saat mendapati kondisi Tari. Cowok itu menyeruakkan tubuh tingginya di antara Vero dan Tari, membuat Vero terdorong mudur beberapa langkah. Sebisa mungkin di ditutupinya Tari dari pandangan para penonton yang berjubel. Kesepuluh jarinya melepas kancing-kancing
Tari kini tidak lagi hanya tertunduk dan pucat pasi. Selapis air bening mulai menggenangi kedua matanya. Memantulkan sinar matahari pagi. Menciptakan kerlip yang membuat para penonton yang punya akses menatapnya langsung tahu bahwa cewek itu menangis.
Ari mengatupkan kedua gerahamnya kuat-kuat. Menekan kemarahannya yang mulai menggelegak. Dilihatnya lapisan bening di kedua mata Tari mulai bergetar.
Akhirnya Ari membuka kemejanya dengan paksa. Tiga buah kancing yang masih terkait terenggut keras. Dua diantaranya melejit ke lantai, sementara satu sisanya tergantung-gant
Segera diselubunginya Tari dengan kemejanya itu dan ditutupinya bagian depan tubuh cewek itu rapat-rapat. Ibu jarinya kemudian dengan cepat menghapus air mata Tari yang masih menggenangi pelupuk mata, belum mengalir turun. Seketika itu juga Ari membungkukkan tubuhnya dan berbisik lirih, “Jangan nangis di sini. Jangan tunjukin kekalahan lo.”
Dalam tunduknya Tari tertegun. Untuk perlindungan Ari ini, setelah rentetan caci maki yang baru sajadia muntahkan untuk cowok ini, kenapa ini balasannya?
Dengan paksa Tari menelan tangisnya. Dikerjapkannya kedua matanya. Deserahkannya sisa air matanya ke tangan Ari. Ari menghapus habis butiran-butiran
“Tolong anter ke kelasnya, Ji.”
“Oke.” Oji mengangguk. Dihampirinya Tari. Diulurkannya tangan kirinya lalu dirangkulnya bahu cewek itu dan segera dibawanya pergi. Di sepanjang tangga turun, setelah melepaskan rangkulannya dari bahu Tari, tu cowok ngomel.
“Elo tuh ya, kelas sepuluh nekat. Pagi-pagi bikin rebut di kelas duabelas. Sebenernya elo tuh berani apa bego sih?”
Tari terdiam. Diikutinya langkah Oji dengan kepala tertunduk. Sampai di depan lab fisika, di latai bawah, Oji berhenti.
“Ganti baju dulu gih sana,” perinahnya.
“Di mana?” Tari memandang sekeliling.
“Ya di dalem lab laaaah. Emangnya lo mau ganti di sini? Di koridor, di depan gue? Gue sih nggak keberatan. Alhamdulillah banget malah.”
Tari langsung cemberut.
“Di sini?” ditunjuknya pintu di sebelah kirinya.
“Iya. Cepetan, mumpung nggak ada orang. Gue yang ngawasin.”
Tari memasuki ruang kosong di sebelahnya. Di balik pintu yang tertutup, buru-buru dia melepas baju seragamnya yang robek besar itu. Gabtinya, dipakainya kemeja seragam Ari yang sudah pasti terlalu besar untuk tubuhnya. Keka beberapa saat kemudian dia keluar, Oji tidak bisa menahan tawa gelinya.
“Mending kegedean daripada keliatan,” ucap Oji kalem, lalu melangkah menuju tikungan yang menuju koridor utama. Tari buru-buru mengikuti. Sampai di koridor utama, cewek itu menghentikan langkah.
“Smpe sini aja deh, Kak. Saya ke kelas sendiri aja.”
“Nggak pa-pa nih? Yakin?”
“Nggak pa-pa. Kan belom bel.”
“Bagus deh. Soalnya di atas lagi ada tontonan seru. Gue nggak mau ketinggalan.”
“Terima kasih ya, Kak Oji. Udah nganterin. Tolong bilangin Kak Ari juga, terima kasih bajunya.”
Oji mengibaskan tangan kirinya, tak menjawab. Cowok itu balik badan dan buru-buru berjalan kea rah tangga. Kemudian dia menghela napas panjang, balik badan, dan melangkah menuju kelas dengan lunglai.
***
Begitu Oji membawa Tari pergi, perhatian Ari langsung terarah penuh pada Vero. Dengan mengenakan kaus putih sebagai dalaman, postur tubuh Ari yang tinggi makin keliatan tegas.
Cowok itu melirik jam tangannya sekilas. Tujuh menit lagi bel masuk akan berbunyi. Tidak ada waktu lagi untuk memindahkan masalah ini ke dalam zona pridbadi. Terpaksa dia harus menuntaskan cewek ini di depan seluruh mata yang ada. Yang menyesaki koridor berbentuk L itu dari ujung ke ujung.
Siswa paling berkuasa di sekolah berhadapan dengan siswi yang juga punya status yang sama. Jelas tontonan yang seru banget!
Tenang dan tanpa sedikit pun membuka mulut, Ari menatap Vero. Pentolan The Scissors ini jenis cewek yang efisien blak-blakan. Vero pernah “menembak” Ari dulu, saat mereka masih berada dalam bulan-bulan awal kelas sepuluh. Usaha yang pertama. Jadi masih dalam bentuk yang umum dan sederhana. Verbal.
Usaha yang kedua, di pengujung kelas sepuluh, menjelang mereka naik kelas sebelas, mulai berbahaya. Vero mulai menggunakan cara licik. Trik basi dan kacangan yang sayangnya masih sangat efektif. Kalau saja tubuh Ari tidak akrab dengan alcohol sejak SMP, dipastikan pada saat itu dirinya akan tumbang dan masuk perangkap. Peristiwa itulah yang kemudian memicu Ari untuk mengambil sikap tegas pada Vero. Nyaris mempersetankan gender.
Perlahan Ari melangkah mendekati Vero. Berbeda dengan kelima anggota The Scissors yang lain, yang langsung memilih mundur dari arena ketegangan itu dan bergabung dalam kerumunan penonton yang berdri paling depan, Vero memilih tetap tegak di tempatnya. Meskipun Ari terlihat tenang, bahkan kedua matanya menyorotkan senyum, Vero amat sangat menyadari betapa berbahayanya cowok di depannya ini. Tapi dia tidak berniat mundur. Sama sekali!
“Lo pernah beberapa nyari dia ke kelasnya.”
Kalimat Ari itu pernyataan, bukan pertanyaan. Tapi Vero tetap menjawab.
“Iya!” ucapnya tegas. Ditantangnya kedua mata hitam di depannya. Ari mengangguk-angg
“Pernah mikir nggak, kenapa nggak pernah ketemu? Kenapa setiap kali lo dating tu cewek selalu pas lagi nggak ada?” Ari mengangkat kedua alis tinggi-tinggi. Vero tertegun.
“Elo…?”
“Yap!” Ari tersenyum tipis. “Gue diemin karena gue paham, itu emang perlu buat seorang Veronica. Tapi nggak bisa lebih dari itu.”
“Kenapa?” tantang Vero. “Dia masuk teritori gue!” tandasnya.
“Teritori yang mana?” Ari memasang tampang bingung. Di lingkaran penonton terdepan, Ridho ketawa pelan.
“Ini daerah gue. Dia nggak bisa seenaknya dating ke sini.”
“Gue baru tau ada ratu di sini…” Ari menoleh dan menatap Ridho. “Sejak kapan?”
“Sejak beliau menobatkan dirinya sendiri,” Ridho menjelaskan dengan gaya pelaporan resmi.
“Oooh, gitu?” Ari mengangguk-angg
Ucapan Ridho membuat para penonton yang bisa mendengar jadi tersenyum-senyu
Ari mengembalikan tatapannya ke Vero. “Ini jalan umum. Siapa aja boleh lewat.”
“Tapi terlarang buat anak kelas sepuluh!” tandas Vero. “Ini daerah kelas dua belas. Kalo lo mau tucewek nggak gue colek, bikinin aja tangga khusus buat dia. Langsung ke kelaslo. Jangan lewat tangga yang udah ada. Karena itu bukan buat anak kelas sepuluh.”
“Ck, fuuuuh…” sambil menghadapkan tubuhnya ke arah Oji dan Ridho, Ari menarik napas lalu mengembuskannya
“Libas, Bos!”Oji yang belum lama kembali langsung memanasi. “Ini era emansipasi. Jadi legal.”
“Gitu, ya?” Ari tersenyum lebar. Tatapannya beralih ke Ridho, yang langsung membalas senyum Ari itu dengan seringai sinis.
Ridho melipat kedua tangannya di depan dada. “I’m blind and deaf,” ucapnya kalem.
“Sip!” Ari mengangguk.
Tiba-tiba cowok itu menghadapkan kembali tubuhnya ke Vero, dengan gerakan mendadak dan langsung maju selangkah. Vero terkesiap. Refleks, cewek itu bergerak mundur. Sayangnya, Vero hanya bisa mundur selangkah karena di belakangnya berdiri kokoh tembok kelas.
Tarikan napas tertahan terdengar serentak dari para penonton cewek. Sementara para penonton cowok menatap dengan sorot yang semakin ingin tahu.berharap sesuatu yang menarik yang akan terjadi.
Sekali lagi Ari membuat para penonton cewek jadi serentak menahan napas, ketika dia mengurangi jaraknya dengan Vero yang tinggal selangkah itu jadi setengahnya.
Tiba-tiba cowok itu merentangkan kedua lengannya. Disentuhnya dinding di belakang Vero dengan kedua telapak tangannya dan dikurungnya Vero dalam rentangan kedua lengannya.
Seketika sorak riuh membahana dari ujung ke ujung. Untuk kedua kalinya Vero terkesiap. Cewek itu melekatkan tubuhnya rapat-rapat di dinding belakangnya. Dia bisa merasakan degup jantungnya menggila.
Sebenarnya ini bisa diilang jawaban atas doa-doa histerisnya. Sedikit wujud nyata dari banyak angan-angan liarnya tentang Ari. Tapi tentu saja tidak daam konteks ini. Tidak degan nyala kemarahan di kedu mata hitam di depannya ini.
Vero berusaha menekan rasa takutnya karena ada terlalu banyak saksi mata. Dia nggak bisa membiarkan dirinya kalah. Kalaupun akhirnya harus kalah, paling nggak dia harus memberikan perlawanan sebelumnya.
“Gue nggak keliatan, ya? Hmm?” sepasang mata Ari melembut. Jenis kelembutan dengan ketajaman mata pisau di baliknya.
Matahari pagi menyoroti punggung cowok itu. Cahayanya yang mulai terasa panas membuat setiap pori-pori tubuh Ari yang tidak tertutup meneteskan butir keringat. Aroma maskulin, perpaduan satu merek parfum terkenal dan aroma alami yang menyeruak pelan. Tak ayal membangkitkan semua angan liar yang selama ini coba diberangus Vero dengan segala cara dan selalu saja… gagal!
Angan liar di benak Vero menari gila. Memaksa keluar. Berteriak menuntut penuntasan.
Sialan banget ni cowok. Kenapa sih dia keren banget!? Pake lepas kemeja segala, lagi! Vero memaki dalam hati.
“Gue nggak keliatan?” Ari mengulangi pertanyaannya. Tidak menyadari cewek yang berada dalam rentangan dua lengannya itu sedang berperang melawan dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian Vero berhasil memaki dirinya sendiri agar sadar bahwa situasi saat ini sama sekali bukan untuk para angan itu mewujud jadi kenyataan. Justru sebaliknya, kemungkinan seumur hidup akan tetap jadi angan-angan!
Diangkatnya wajah dan ditentangnya kedua mata Ari yang begitu dekat. Bahkan setiap pembuluh darah tipis di mata cowok itu bisa terlihat jelas.
“Apa sih cakepnya tu cewek? Kecuali dadanya. Okelah, kalo itu gue harus ngakuin.”
“Gitu, ya?” Ari tersenyum, terlihat geli.
Untuk alasan yang tidak diketahui Vero, Ari bersiul keras dalam hati mendengar kalimatnya tadi. Karena dengan begitu ia bisa langsung “menghabisi” cewek ini tanpa perlu memperlama acara bincang-bincang
“Terus terang gue belom pernah ngeliat langsung, meskipun itu amat sangat gue inginkan. Yah, sementara dalam imajinasi aja dulu. Soalnya kalo mau maksa ngeliat, tu cewek terpaksa harus gue iket dulu.”
Kalimat panjang Ari langsung membuat para penonton berseru riuh. Tiba-tiba cowok itu merendahkan mukanya, membuat Vero seketika memundurkan kepalanya sampai menyentuh dinding. Ketika kemudian bicara, Ari melirihkan suaranya. Sengaja, karena dia ingin hanya cewek dalam rentangan kedua lengannya ini yang bisa mendengarnya.
“Justru anatomi lo yang gue tau. Di mana aja ada tahi lalat, tanda lahir ada di mana, bekas cacar di mana. Ada tato juga, ya? Keren.”
Ari bicara dengan intonasi biasa, bahkan bisa dibilang santai, tapi efek kalimatnya itu bena-benar dahsyat. Vero membeku. Pucat pasi. Putih seputih-putihny
“Lo… tau dari siapa!?” desisnya dengan suara tercekik.
“Dari siapa?” Ari berlagak heran. “Berarti lebih dari satu dong? Ck,ck,ck. Elo ternyata lebih nakal dari yang gue kira ya? Dari para… saksi matalah, sebut aja begitu. Soalnya kalo gue bilang ‘lawan tanding’, kesannya kok jadi kayak atlet.”
Vero melunglai. Dia merasa seakan seluruh tulang di tubuhnya menghilang. Tiba-tiba saja dia merasa begitu kedinginan.
“Jadi...,” bisik Ari, “lo mau ini tetep jadi rahasia gue, atau lo mau gue ‘nyanyi’? masalahnya, suara gue fals.”
Vero tidak menjawab. Kedua matanya menatap Ari nanar.
“Oke, deal!” Ari mengangguk. Kedua matanya kemudian menyapu keseluruhan wajah Vero. “Muka lo pucet banget,” ucapnya. “Mau gue cover-in?” tawarnya. “Soalnya ada banyak saksi mata nih.”
Satu bentuk empati yang aneh, kontradiktif. Karena jelas-jelas Ari sendiri yang sudah menyayatkan mata pisau yang benar-benar tajam ke pentolan The Scissors itu.
Ari melepaskan kurungan rentangan kedua lengannya.
“Jadi...,” katanya dengan suara yang kembali biasa, sambil meraih satu tangan Vero yang sedari tadi menggenggam pin matahari milik Tari. Bisa dirasakannya genggaman kelima jari itu jadi begitu lemah, “… jangan ikut campur urusan gue, supaya gue juga nggak ikut campur urusan lo. Karena ada beberapa variasi penggunaan gunting yang elo nggak tau.” Ari mengangkat kedua alisnya, tersenyum tipis. “Gue tau lo pasti ngerti, karena kita berdua sama-sama orang jahat…”
Kalimat Ari itu membuat para penonton yang bisa mendengar jadi ketawa geli. Ari balik badan. Diapit kedua sobatnya di kiri-kanan, ditinggalkannya
***
Ada yang dilihat Ari namun tidak dilihat orang lain. Reaksi Tari adalah luka serius. Sakit hati yang murni. Dan seperti yang Ari cemaskan – meskipun kini setiap kali mereka bertemu, kadang berpapasan, Tari tidak lagi menghindar – jarak yang terentang sebenarnya justru semakin panjang.
Kenekatan Tari muncul di kelasnya sudah merupakan bukti nyata. Situasi mungkin telah berkembang ke arah yang sama sekali tidak diduganya. Untuk memastikan, suatu pagi ditunggunya kedatangan cewek itu.
Dengan punggung bersandar di dinding pos sekuriti, kedua mata Ari terus tertancap ke pintu gerbang. Beberapa teman sekelasnya – termasuk Oji, Ridho, dan Eki, yang berharap bakalan ada kejadian heboh – berdiri tidak jauh dari Ari.
Ketika Tari muncul, mereka langsung ikut menghadang berdiri di belakang sang pentolan sekolah. Langkah Tari seketika terhenti. Dengan waspada ditatapnya Ari dan teman-temannya.
Sama sekali tidak peduli dengan situasi di sekelilingnya, Ari melangkah mendekati Tari. Kedua matanya menatap lurus.
“Sekali lagi lo bilang gue banci, akan gue paksain pembuktiannya ke elo nanti!”
Bisikan-bisikan
Tari merapatkan kedua gerahamnya dengan geram. Kedua matanya yang menentang Ari perlahan menyipit. Jangan-jangan dia terlalu cepat menarik kesimpulan. Mungkin perlindungan itu hanya bentuk dari rasa tanggung jawab, karena hari itu Tari memang nekat memasuki area terlarang untuk kelas sepuluh dan sebelas, hanya untuk mencari cowok ini.
“Gue nggak takut!” tandasnya. “Itu berarti lo emang banci!”
Jawaban Tari kontan membuat semuanya ternganga. Kemudian cewek itu meneruskan langkah. Di depan teman-teman Ari yang menghalangi jalan, dia berhenti.
“Minggir lo semua!” bentaknya. Eki langsung melompat ke samping dengan gaya dibuat-buat.
“Iya, Non. Duilee, galak amat.”
Lingkaran siswa yang menonton mengikuti kepergian Tari dengan multu ternganga. Sementara senyum-senyum geli tercetak di bibir teman-teman Ari.
Dengan kedua mata yang terus mengikuti kepergian Tari, Ari mengangguk-angg
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar